Loading

Ketik untuk mencari

Arab Saudi

Penasihat Bin Nayef: Bin Salman Jauh Lebih Bahaya Ketimbang Ancaman Asing

Penasihat Bin Nayef: Bin Salman Jauh Lebih Bahaya Ketimbang Ancaman Asing

POROS PERLAWANAN – Penasihat mantan putra mahkota Saudi, Muhammad bin Nayef lewat akun Twitter-nya menulis, ”Ada banyak faktor dan penyebab runtuhnya negara. Namun yang paling berat dan berbahaya adalah saat keruntuhan itu disebabkan pejabat tertinggi dalam pemerintahan.”

“Hal ini persis terjadi di Arab Saudi. Ancaman Putra Mahkota (Muhammad) Bin Salman untuk negara ini jauh lebih besar dari bahaya-bahaya asing,” imbuhnya, seperti dilansir al-Alam.

“Bin Salman telah melemahkan keluarga Kerajaan, menebarkan benih kekacauan dan perselisihan di tengah masyarakat, dan bermain-main dengan ekonomi negara.”

Beberapa waktu lalu, kantor berita Reuters memberitakan, ketidakpuasan dan kritik terhadap Bin Salman kian meningkat di tengah dinasti Saud.

Menurut Reuters, sebagian anggota keluarga Kerajaan dan kelompok elit pengusaha mengutarakan “keputusasaan” mereka terhadap metode kepemimpinan Putra Mahkota.

Mengutip dari seorang diplomat senior asing dan lima sumber yang dekat dengan keluarga Kerajaan, Reuters menulis bahwa sejumlah cabang penting dalam dinasti Saud (yang terdiri dari sekitar 10 ribu orang) menyatakan, mereka mengkhawatirkan kemampuan Bin Salman dalam memimpin dan melindungi “negara pengekspor minyak terbesar di dunia” tersebut.

“Ada banyak amarah dan ketidakpuasan terhadap cara kepemimpinan Bin Salman,” ujar seorang tokoh elit Saudi, yang enggan disebut namanya, kepada Reuters.

Sejak menggantikan posisi Bin Nayef, yang nota bene adalah sepupunya, sebagai Putra Mahkota Saudi, Bin Salman melakukan langkah-langkah kontroversial.

Pada tahun 2017 lalu, Bin Salman menahan sejumlah pangeran dan pejabat tinggi Saudi di hotel Ritz-Carlton, Riyadh. Saat itu dia mengklaim, penahanan dilakukan sebagai bagian dari kampanye pemberantasan korupsi.

Bin Salman juga meluncurkan proposal ekonomi yang dikenal dengan “Visi 2030.” Melalui proposal ini, Bin Salman berangan-angan menjadikan Saudi sebagai pusat perekonomian di kawasan.

Sejalan dengan misi ini, Bin Salman pun melancarkan “reformasi” di berbagai bidang, baik politik, ekonomi, bahkan budaya. Saudi dipolesnya agar terlihat “ramah” dan “sejuk.” Hal-hal yang dahulu dianggap tabu di Saudi, kini diperbolehkan. Bioskop dan klub malam pun dibuka. Bahkan tak ketinggalan konser musik yang menampilkan para penyanyi asing pun bebas digelar. Inilah yang kemudian membuat Bin Salman tak disukai, terutama oleh kalangan konservatif.

Tags: