Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Picu Kekacauan di Irak dan Kawasan, Militer AS dan ISIS Menyatu Ibarat Dua Sisi Mata Uang

Picu Kekacauan di Irak dan Kawasan, Militer AS dan ISIS Menyatu Ibarat Dua Sisi Mata Uang

POROS PERLAWANAN – Dua berita utama memuncaki sejumlah media Irak hari ini. Pertama adalah berita ledakan yang terjadi di jalur konvoi logistik Tentara AS di Salahudin, dan yang kedua adalah berita tewasnya “gubernur” ISIS di Baghdad beserta dua pembantunya di tangan Angkatan Bersenjata Irak.

Para penyerang konvoi AS menyebut diri mereka Kelompok Ashab al-Kahfi. Dalam statemennya, kelompok ini menyatakan bertanggung jawab atas ledakan di jalur yang dilewati Tentara AS di Mukaishifah. Di akhir statemen, mereka mengutip ayat Alquran, “Dan kemenangan hanya berasal dari Yang Mahamulia dan Perkasa”.

Di lain pihak, Jubir Panglima Besar Angkatan Bersenjata, Yahya Rasul, mengabarkan terbunuhnya gubernur ISIS di Baghdad, Umar Shalal Ubaid al-Kartani, bersama staf medianya Laits Jamal alias Abu al-Barra dan wakilnya Qital al-Muhajir. Tiga teroris itu tewas dalam sebuah operasi yang dilancarkan pasukan Badan Intelijen Nasional Irak.

Setiap negara di dunia bebas untuk mewujudkan keamanan bangsanya, juga kedaulatannya, tanpa intervensi asing dan dikte kekuatan arogan. Seperti bangsa-bangsa lain, bangsa Irak telah mengorbankan banyak darah demi mewujudkan tujuan ini dan menghadapi penjajah beserta antek takfiri mereka.

Dengan melihat sekilas dinamika politik Irak, kehadiran pasukan asing, dan kemunculan sel-sel tidur ISIS, kita menarik kesimpulan bahwa tujuan AS dari eksistensi militernya di Irak adalah memicu ketidakamanan dan kekacauan. Target AS adalah melanggengkan kehadirannya dan membuat Irak tetap terbelakang di pentas dunia, agar Washington bisa melumat Baghdad dengan mudah.

Setelah diusir dari Irak pada tahun 2011, AS kembali lagi guna memperluas pengaruh diplomatiknya demi melindungi kepentingan Washington di Irak dan Kawasan.

Tujuan lain AS adalah menjamin keamanan Rezim Zionis. Kembalinya AS ke Irak jelas bertentangan dengan kesepakatan keamanan antara Baghdad dan Washington.

AS juga masih melanggar komitmennya untuk mempersenjatai Tentara Irak. Washington mengklaim, Baghdad “tidak serius” dalam memerangi ISIS. Padahal sejumlah negara di Kawasan, yang berlomba menormalisasi hubungan dengan Israel, mendapat pasokan lengkap senjata dari AS.

Pasukan AS dan teroris takfiri saling melengkapi satu sama lain dalam mengacaukan stabilitas keamanan di Irak. Tujuannya adalah memaksa Irak untuk menyerah terhadap Poros AS-Zionis dan antek-antek mereka.

Dua operasi terbaru di atas merupakan reaksi rakyat dan militer Irak; reaksi yang menunjukkan penentangan mereka terhadap keberadaan penjajah di negara mereka.

Tags: