Loading

Ketik untuk mencari

Eropa

Protes Warga Inggris di Kedubes AS Tunjukkan Kemarahan Global atas Kematian Floyd

thumbs_b_c_59475a0c9929337473de3cd7f68262ea.jpg

POROS PERLAWANAN – Ratusan warga Inggris memprotes pembunuhan George Floyd di Amerika, di luar kompleks Kedutaan Besar AS di London, setelah gelombang protes juga terjadi di beberapa negara, dan reaksi kecaman global di sejumlah negara.

Ratusan orang melakukan aksi protes di Ibu Kota Inggris, London, sebagai solidaritas kepada demonstran di Amerika Serikat, atas pembunuhan George Floyd, seorang Afro-Amerika, oleh polisi di Minneapolis, Minnesota.

Warga London yang memprotes kebijakan lockdown karena pandemi virus Corona, juga berpartisipasi dalam demonstrasi memprotes pembunuhan Floyd. Mereka meneriakkan yel-yel “Tidak ada keadilan, tidak ada perdamaian,” dan melambaikan spanduk bertuliskan “Kehidupan kulit hitam itu penting” di luar kompleks Kedutaan Besar AS.

Sementara Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson memberi pernyataan pada Rabu 3 Juni, bahwa “Pembunuhan Floyd adalah memalukan dan tidak dapat dimaafkan.” Namun ia menekankan “demonstrasi harus dilakukan dengan cara yang sah dan rasional.”

Pada Selasa malam, Ibu Kota Prancis, Paris, menyaksikan konfrontasi kekerasan antara polisi dan demonstran, atas tuntutan keluarga Adama Traore, pria berkulit sawo matang yang meninggal pada tahun 2016 setelah penangkapannya. Aksi ini juga bentuk solidaritas terhadap para demonstran yang memprotes kekerasan polisi Amerika.

Sebagai tanggapan, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan pada hari Senin 1 Juni, bahwa demonstrasi harus berlangsung damai, serta menyerukan agar kekerasan polisi AS harus diselidiki.

Senada dengan itu, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Michelle Bachelet, mengatakan pada hari Selasa bahwa epidemi Corona dan demonstrasi yang dipicu oleh pembunuhan Floyd “menunjukkan kuatnya diskriminasi rasial” di Amerika Serikat.

Menteri Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell, menyatakan keterkejutan orang Eropa karena kematian George Floyd.

Sementara pada hari Selasa, Rusia menyatakan “kaget” atas kekerasan yang dilakukan oleh polisi Amerika terhadap wartawan, terutama terhadap wartawan dari harian Rusia “Sputnik”, yang meliput kerusuhan di Amerika Serikat.

Di depan Konsulat Amerika di Yunani, bendera Amerika dibakar setelah demi mengobarkan semangat negara-negara di dunia.

Di sisi lain benua Eropa, ribuan demonstran di Belanda berlutut sebagai ungkapan kecaman mereka atas pembunuhan Floyd, membawa spanduk bertuliskan kata-kata mengutuk rasisme, dalam solidaritas dengan para demonstran di Amerika.

Sementara di Argentina, para demonstran meneriakkan ungkapan “Keadilan untuk George Floyd” di depan Kamar Dagang Amerika di negara itu. Mereka memberi pesan tegas mengenai rasisme dan diskriminasi yang telah dialami oleh warga Afro-Amerika selama beberapa dekade.

Tags: