Rencana Pendudukan Gaza: Dari Perselisihan Internal Zionis hingga Tantangan di Depan
POROS PERLAWANAN — Sebuah surat kabar Israel mengungkap adanya perbedaan pandangan antara tingkat militer dan politik terkait rencana pendudukan Gaza yang baru disetujui Kabinet, serta berbagai tantangan yang akan dihadapi dalam pelaksanaannya.
Mengutip laporan Al-Arabi Al-Jadeed pada Rabu 13 Agustus, salah satu isu utama yang menjadi perhatian komando militer Israel dalam dua pekan ke depan pascapersetujuan rencana tersebut adalah waktu pemanggilan pasukan cadangan untuk operasi militer jangka panjang, serta jumlah personel yang akan dikerahkan.
Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa Kepala Staf Angkatan Darat, Eyal Zamir, kemungkinan akan menerima garis besar serta poin-poin utama konsep operasi darat di Gaza dari Komando Selatan pada akhir pekan ini. Namun, sumber tersebut menegaskan bahwa operasi ofensif berskala besar tidak akan dilakukan setidaknya hingga akhir bulan.
Penundaan ini dikaitkan dengan kekhawatiran militer terhadap tingkat kelelahan pasukan cadangan. Pemanggilan mereka saat liburan musim panas dinilai akan memberikan tekanan psikologis dan fisik yang signifikan.
Laporan itu juga menyoroti berbagai keterbatasan yang dihadapi Israel dalam pelaksanaan rencana, mulai dari kekurangan tenaga dan tekanan internasional, kesiapan teknis tank serta kendaraan lapis baja, hingga minimnya amunisi dan persenjataan, khususnya untuk pertempuran darat. Salah satu hambatan terbesar adalah ketidakpastian Tel Aviv mengenai lokasi tahanan Israel di Gaza.
Mengutip perkiraan militer, Yedioth Ahronoth menyebut bahwa Hamas kemungkinan akan memperkuat perlindungan terhadap tahanan di jaringan terowongan bawah tanah, bahkan memindahkan mereka ke lokasi lain dalam waktu dekat. Zamir dikabarkan menegaskan kepada para pemimpin politik bahwa “garis merah” militer adalah tidak akan menyerang wilayah yang diyakini terdapat tahanan Israel.
Di sisi lain, kepercayaan pasukan cadangan terhadap komando militer disebut menurun tajam. Sebelumnya, mereka dijanjikan masa dinas tidak melebihi dua setengah bulan dalam tahun ini. Namun, janji itu kerap dilanggar selama Operasi Gideon’s Chariots. Kini, mereka dijadwalkan kembali bertugas pada November dan Desember untuk misi di Gaza atau Tepi Barat.
Sifat Bertahap Rencana Pendudukan Gaza
Meski Kabinet yang dipimpin Benyamin Netanyahu telah menyetujui rencana pendudukan Gaza, rincian dan tempo implementasinya diserahkan kepada militer. Pihak komando disebut cenderung mengedepankan strategi blokade guna meminimalkan keterlibatan langsung pasukan dalam perang darat. Pendekatan ini berpotensi menunda dan membagi implementasi rencana menjadi beberapa tahap.
Menurut Yedioth Ahronoth, Netanyahu menetapkan batas waktu hingga Oktober untuk memulai persiapan. Fase awal kemungkinan berupa pengepungan Kota Gaza sekitar dua bulan mendatang, disusul operasi ke wilayah perkotaan dan mungkin jaringan terowongan bawah tanah.
