Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Rezim Bin Zayed Panggil secara Khusus Staf Kedubes Iran, Bukti Republik Islam Penyokong Utama Perlawanan Palestina

Rezim Bin Zayed Panggil secara Khusus Staf Kedubes Iran, Bukti Republik Islam Penyokong Utama Perlawanan Palestina

POROS PERLAWANAN – Pada Minggu 16 Agustus kemarin, Kemenlu UEA memanggil Staf Kedubes Iran, menyusul banjir kecaman Dunia Islam terhadap normalisasi hubungan Abu Dhabi-Tel Aviv.

Dilansir al-Alam, meski tindakan normalisasi UEA bukan hal mengejutkan, namun besarnya hujatan atas pengkhianatan ini tidak disangka-sangka Abu Dhabi. Berlalunya waktu bukan hanya tidak mengendurkan kecaman, namun justru meningkatkan intensitasnya.

Oleh karena itu, Pemerintahan Bin Zayed berupaya menghentikan gelombang protes Dunia Islam dengan memanggil Staf Kedubes Iran ke Kemenlu UEA. Tujuannya adalah menciptakan bendungan untuk banjir kecaman, setidaknya dari satu titik.

Sebelum ini, UEA sudah membuka jalur normalisasi dengan Rezim Zionis dengan berbagai dalih, mulai dari sektor pariwisata, olahraga, sains, dan sebagainya. Mereka yang tahu seluk-beluk UEA tidak ragu sedikit pun bahwa normalisasi ini akan dideklarasikan secara resmi.

Pada hakikatnya, ambisi Bin Zayed untuk segera bertakhta adalah katalisator normalisasi ini. Meski dari sisi lain, hasrat Bin Zayed untuk mengungguli Putra Mahkota Saudi, Muhammad bin Salman dalam kompetisi normalisasi, juga bisa disebut memengaruhi tindakan ini.

UEA mengklaim, respons Teheran terhadap normalisasi ini sebagai “pelanggaran terhadap kedaulatan nasionalnya”. Padahal, dengan menjalin hubungan bersama Israel, negara kecil ini telah menistakan identitas bersama lebih dari 1,7 miliar Muslim di dunia. Dengan kata lain, UEA telah menghadapkan kedaulatan negara-negara Muslim, juga keamanan regional dan global, dengan sebuah tantangan.

Di antara semua negara-negara pengecam, UEA hanya fokus terhadap Iran. Pada hakikatnya, ini adalah pengakuan resmi bahwa rakyat Palestina, juga kaum Muslim di dunia, sepakat meyakini Republik Islam Iran sebagai pengibar panji norma perlawanan Palestina.

Presiden Iran, Hassan Rouhani mengingatkan bahwa dahulu Saddam Hussein berencana menyerang Saudi, Bahrain, dan UEA. Ia mengungkap bahwa Iran adalah penghalang utama rencana tersebut. Tidak lama lagi, UEA akan memohon-mohon kepada Dunia Islam agar terbebas dari kejahatan Israel.

Pemilihan waktu deklarasi hubungan UEA-Israel juga patut direnungi. Bin Zayed menjabat tangan Netanyahu erat-erat di saat Trump sangat membutuhkan bantuan untuk mengisi rapor kosong kebijakan luar negerinya. Di pihak lain, Netanyahu juga tengah menghadapi krisis internal dan demo-demo berkelanjutan di Israel.

Barangkali Bin Zayed berpikir bahwa di tengah situasi pelik pasca tragedi Beirut, tindakannya tidak akan menarik perhatian publik. Padahal, norma perjuangan Palestina terlalu mencolok untuk bisa diabaikan dan dilupakan begitu saja oleh kaum Muslim di dunia.

Tags: