Loading

Ketik untuk mencari

Irak

Sadar Eksistensinya Terancam, Dubes Inggris Tebar Propaganda Sesat Irak Tak Aman Akibat Kehadiran Kelompok Poros Perlawanan

Minus Etika Diplomatik Hingga Tak Kapok Intervensi Urusan Domestik, Dubes Inggris Panen Hujatan Aktivis Media dan Tokoh Politik Ternama Irak

POROS PERLAWANAN – Duta Besar Inggris di Baghdad, Stephen Hickey melalui statemennya berupaya mengesankan bahwa situasi di Irak tidak aman dan belum kondusif.

Dilansir oleh Fars, Hickey dalam tweet-nya Minggu 12 April menjawab pertanyaan kenapa dia, berbeda dengan para Dubes lain, tidak membawa serta keluarganya ke Irak.

“Saya ingin keluarga saya berada di sini, agar mereka bisa menyaksikan upaya-upaya (pembangunan) Irak. Namun sayangnya, situasi (Irak) tidak aman bagi mereka, karena adanya ancaman dari kelompok-kelompok milisi (al-Hashd al-Shaabi) dan serangan roket tiada henti ke sejumlah Kedubes,” cuit Hickey.

Duta Besar Inggris itu mengaku, dia yakin bahwa pemerintahan baru akan mewujudkan keamanan dan stabilitas di Irak.

Sejak disahkannya proposal pengusiran militer asing dari Irak di parlemen pada 5 Januari lalu, AS, sebagai pimpinan koalisi internasional yang mengaku “anti-ISIS”, dan Inggris menyimpulkan bahwa eksistensi mereka di Negeri Seribu Satu Malam sedang terancam.

Oleh karena itu, Washington dan London berupaya membangun opini bahwa kondisi Irak tidak aman. Mereka menuding Kelompok-kelompok Poros Perlawanan Irak, termasuk al-Hashd al-Shaabi, sebagai penyebab ketidakamanan Irak. Padahal, Kelompok-kelompok Poros Perlawanan ini memainkan peran utama dalam mengalahkan ISIS dan membebaskan kawasan-kawasan Irak dari penguasaan teroris.

Inggris bahkan mendukung serangan udara pasukan AS ke basis-basis al-Hashd al-Shaabi, yang nota bene adalah bagian dari Angkatan Bersenjata Irak. Inilah yang membuat Kementerian Luar Negeri Irak memanggil Dubes AS dan Inggris untuk menjelaskan alasan serangan tersebut.

Sebagian partai politik dan legislator Irak menyatakan, kekhalifahan yang diklaim ISIS telah ditumbangkan. Menurut mereka, Angkatan Bersenjata Irak, mulai dari tentara, polisi, hingga al-Hashd al-Shaabi cukup kompeten untuk melindungi keamanan negara tersebut dan mencegah kembalinya ISIS. Oleh karena itu, mereka menilai keberadaan pasukan AS dan selainnya tak lagi dibutuhkan.

Tags: