Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Samarkan Era Terburuknya di Pentas Politik, Netanyahu Umbar Ancaman yang Faktanya Tak Mampu Dia Wujudkan

Samarkan Era Terburuknya di Pentas Politik, Netanyahu Umbar Ancaman yang Faktanya Tak Mampu Dia Wujudkan

POROS PERLAWANAN – Setiap orang di Israel tidak membantah bahwa Benyamin Netanyahu saat ini tengah mengalami hari-hari terburuknya di pentas politik. Akibat kasus korupsi dan kegagalan mengatasi pandemi Corona, popularitasnya turun drastis dan suara mayoritas menuntutnya mundur.

Dilansir al-Alam, seperti biasa, Netanyahu selalu “kabur ke depan” saat menghadapi berbagai krisis. Dia kerap mengambil keputusan-keputusan yang, seandainya pun disukai publik Israel, tetap saja akan menyeretnya ke jurang.

Statemen terbaru Netanyahu soal teror terhadap para pemimpin Poros Perlawanan di Gaza, terutama Yahya Sinwar dan Marwan Isa, tak lebih dari sebuah sesumbar. Dia mengobralnya demi memprovokasi emosi kelompok sayap kanan. Namun apakah dia benar-benar bisa melaksanakan ancamannya?

Jika ada yang berkata bahwa Israel tidak bisa meneror siapa pun, mungkin dia bisa disebut keliru. Sebelum ini, Rezim Zionis pernah pergi hingga ke pesisir Tunisia untuk meneror seorang pejuang Palestina. Masalahnya bukan pada pelaksanaan teror, tapi pada “dampak dari aksi teror tersebut”.

Dalam 6 tahun terakhir, Israel tidak pernah menyulut perang di Gaza. Tel Aviv hanya mengambil kebijakan “menahan diri.” Sebab, ia tahu bahwa perang sungguhan akan menimbulkan akibat buruk yang tak bisa ditanggungnya.

Buktinya, balon-balon berapi yang merupakan inovasi sederhana rakyat Palestina, telah sukses membuat pemukim Zionis ketakutan. Mereka berkali-kali menuntut Tel Aviv untuk mencarikan solusi masalah ini.

Dalam situasi krisis saat ini, Netanyahu berupaya mempropagandakan apa yang disukai kelompok sayap kanan. Dia menyebut kesepakatan dengan UEA sebagai “raihan bersejarah tiada tara”, karena diklaim akan menanamkan investasi senilai milyaran di Israel, seolah UEA adalah negara terbesar di Arab. Langkah lain Netanyahu untuk menarik simpati adalah mengobral sesumbar akan meneror pejuang Palestina.

Netanyahu sendiri tahu bahwa rencana teror ini butuh pembahasan mendalam. Pertanyaan utamanya adalah “lalu apa setelah ini?” Apakah setelah teror, Israel bisa menghadapi berbagai reaksi dan respons? Sebelum melakukan teror, biro keamanan Israel mesti menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

Netanyahu berlagak bisa mendapatkan solusi keamanan seperti jenderal-jenderal lain. Padahal ia tak mampu menangani balon-balon berapi Palestina. Saat ini, setiap statemen dari Netanyahu hanya untuk konsumsi dalam negeri. Padahal di balik layar, Direktur Mossad melakukan kunjungan guna menemukan solusi melalui gerbang Qatar. Dia berupaya membujuk Doha agar tetap mengirim bantuan finansial ke Gaza, agar penduduknya tidak melancarkan perang terhadap Israel.

Tags: