Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Satu-satunya Senjata yang ‘Lepas Kontrol’ di Irak adalah Senjata AS, Bukan Milik al-Hashd al-Shaabi

Satu-satunya Senjata yang 'Lepas Kontrol' di Irak adalah Senjata AS, Bukan Milik al-Hashd al-Shaabi

POROS PERLAWANAN – AS memusuhi al-Hashd al-Shaabi sama seperti ia memusuhi Hizbullah, Ansharullah, dan kelompok-kelompok Poros Perlawanan lain di Kawasan. Sebab, kelompok-kelompok ini tak pernah tunduk di hadapan tekanan AS dan tidak mengakui Rezim Zionis. Penyebutan sebab selain ini hanyalah tipuan dan muslihat belaka.

Dilansir al-Alam, lama sebelum ini, al-Hashd al-Shaabi telah menggagalkan mimpi-mimpi Washington di Irak, usai mengalahkan ISIS dan mencegah pemecahbelahan Irak berdasarkan klasifikasi sektarian dan ras. Setelah itulah, Aliansi AS-Zionis melancarkan psy war terhadap al-Shaabi. Untuk itu, mereka memanfaatkan imperium media dan tentara siber dengan beragam label politik dan media.

Tak cukup dengan psy war, AS juga membombardir basis-basis al-Shaabi di perbatasan Irak-Suriah dan membunuh sejumlah pejuang kelompok ini.

Awalnya, AS memilih diam dan menyangkal keterlibatan dalam serangan-serangan tersebut. Namun akhirnya, dengan terbongkarnya fakta, Paman Sam terpaksa buka mulut dan secara terbuka mengakui perannya.

Oktober tahun lalu, sejumlah kota di Irak dilanda unjuk rasa yang menuntut pembasmian korupsi. Melalui Kedubesnya, AS menyusupkan para “Joker”, anasir Baath dan ISIS ke tengah pengunjuk rasa, untuk kemudian mengubah arah unjuk rasa. Mereka mengesankan bahwa tuntutan pengunjuk rasa adalah kecaman terhadap al-Shaabi, para ulama panutan, dan hubungan diplomatik Irak-Iran.

Seiring dengan berbagai kejahatan yang dilakukan antek-antek ini, mesin propaganda AS menebar isu-isu seperti “senjata di luar kontrol”, ”ancaman terhadap kantor diplomatik”, ”pembunuhan pengunjuk rasa” dan sebagainya, yang kemudian ditujukan kepada al-Shaabi.

Puncak dari psy war ini adalah teror terhadap Jenderal Qassem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis di Baghdad; teror yang diakui sendiri oleh Presiden AS, Donald Trump.

Hal yang tak diprediksi Washington adalah, Parlemen Irak mengesahkan keputusan untuk mengusir para penjajah, termasuk Tentara AS, usai teror tersebut.

AS tak menyangka bahwa mereka akan dilabeli “penjajah” dan bahwa perlawanan terhadap mereka akan mendapat kekuatan konstitusional.

Setelah gagal menyelewengkan unjuk rasa rakyat Irak, juga tak mampu mengacaukan hubungan Irak-Iran, AS pun berpaling ke sebuah atraksi konyol, yang diperankan oleh kelompok-kelompok teroris bayaran. Mereka diizinkan untuk secara sporadis meluncurkan roket ke arah Kedubes AS, asal roket itu hanya menghantam tanah kosong atau mengenai warga Irak sendiri.

Tujuan dari atraksi ini adalah menciptakan opini al-Shaabi sebagai “milisi liar” dengan “senjata-senjata di luar kendali.” Di waktu yang sama, AS mengancam akan menutup Kedubesnya, dengan harapan Pemerintah Irak berkonfrontasi dengan al-Shaabi.

Namun AS tidak sadar, bahwa usai terjadinya rangkaian teror terhadap para komandan Poros Perlawanan dan bombardir atas basis-basis pejuang, rakyat Irak telah meyakini bahwa satu-satunya senjata di luar kontrol adalah senjata-senjata AS. Sebab, senjata-senjata al-Shaabi hanya digunakan untuk membela kedaulatan dan martabat Irak.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *