Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Selat Hormuz: Harta Karun yang Lebih Berharga daripada Janji-Janji Amerika

POROS PERLAWANAN – Dengan mengutip para analis, Reuters pada Senin 6 Juli menyatakan bahwa kemungkinan besar, Amerika terpaksa menerima pembukaan kembali Selat Hormuz berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh Iran.

Fars melaporkan, dengan menyoroti realitas baru di Selat Hormuz, media Inggris tersebut menulis bahwa Iran berupaya mengubah pencapaian perang menjadi “keuntungan strategis permanen”.

Menurut Reuters, para analis mengatakan bahwa perang telah menonjolkan tuas tekan Iran atas Selat Hormuz, sehingga memungkinkan Teheran untuk menuntut agar setiap negosiasi dan kesepakatan mengenai program nuklir hanya dapat dimulai dengan pengakuan atas kendali Iran atas jalur air vital ini.

Menurut media tersebut, gencatan senjata 60 hari yang dipertimbangkan Washington untuk menghidupkan kembali diplomasi guna mencegah Iran mencapai apa yang disebut sebagai “gudang senjata nuklir”, justru telah memulai persaingan yang berbeda. Dalam persaingan ini, posisi geografis Iran, bukan uraniumnya, adalah aset terkuatnya. Teheran berupaya mengubah pencapaian masa perang menjadi keuntungan strategis permanen melalui pengakuan atas kendalinya terhadap selat ini.

Alex Vatanka dari Middle East Institute yang berbasis di Amerika, menunjuk pada janji-janji Amerika untuk mencegah Iran mendominasi Selat Hormuz dan mengatakan,”Mengapa (Iran) harus memberikan berlian sebagai ganti permen lolipop?”

Menurut Reuters, berdasarkan perhitungan Teheran, Selat Hormuz adalah berlian, sementara pengurangan sanksi dan aset yang dibekukan hanyalah permen lolipop. Iran juga telah berulang kali menekankan dominasinya atas perairan wilayah negara tersebut.

Sehubungan dengan ini, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan,”Selat Hormuz adalah instrumen kekuatan terbesar kita. Kita harus menjaga anugerah ilahi ini dengan benar. Iran tidak akan melepaskan hak-haknya” di jalur air ini dalam kondisi apa pun.”

Mantan diplomat Amerika dan pakar Iran, Alan Eyre berkomentar: “Bagi Teheran yang membantah upaya mencapai bom nuklir, uranium bisa menunggu, tetapi memperkuat posisinya di Hormuz tidak bisa ditunda. Negara ini menginginkan kendali atas Hormuz dan mengadakan negosiasi untuk melembagakan kendali tersebut.”

Menurut Reuters, masalah ini dapat berarti mengukuhkan pengaruh Iran atas Selat Hormuz melalui pengaturan transit, mekanisme koordinasi, atau pemungutan biaya atas layanan di koridor yang dilalui oleh seperlima dari pengiriman minyak mentah dan gas alam cair dunia.

Eyre, merujuk pada negosiasi antara Iran dan Amerika, mengatakan,”Orang Iran tahu bahwa Presiden Amerika Donald Trump ingin keluar dari masalah ini. Dia ingin melewati (kasus perang Iran). Mereka tahu bahwa mereka bisa mendapatkan konsesi darinya karena waktu berpihak pada mereka.”

Mantan negosiator Amerika di Asia Barat, Aaron David Miller juga menjelaskan bahwa kampanye militer Washington gagal mematahkan daya tekan Iran, sehingga menghadapkan diplomasi Amerika dengan gencatan senjata yang tidak lengkap, yang pelaksanaannya telah menjadi medan pertempuran baru.

Menurutnya, Teheran tidak punya alasan untuk menangani masalah nuklir secara serius, sampai mereka yakin bahwa realitas baru di sekitar Selat Hormuz telah diterima dan kemajuan yang berarti telah dicapai dalam membebaskan aset miliaran Dolar yang dibekukan di luar negeri.

“Jangka waktu 60 hari selalu merupakan khayalan. Orang Iran tidak akan bergerak menuju isu nuklir sampai mereka cukup yakin bahwa mereka telah mencapai status quo baru ini. Mereka ingin memastikan Trump mengerti dan dunia memahami bahwa tidak ada jalan kembali ke 27 Februari (sebelum perang),” kata Miller.

Miller menyebut masalah ini sebagai realitas kunci dari tatanan regional pascaperang. Menurut Reuters, baik kekuatan militer Amerika maupun ancaman blokade laut Amerika tidak mengubah posisi Iran terhadap Selat Hormuz. Miller berkata,”Mereka tidak akan melepaskannya.”

Kepala Institut Emirates Policy Center, Ebtisam al-Ketbi menyatakan bahwa Washington, dengan mengakhiri perang tanpa menyelesaikan masalah mendasar, mungkin telah membantu meningkatkan status Selat Hormuz dari sekadar titik dan alat penekan menjadi tuas tekan permanen bagi Teheran.

Para pejabat negara-negara Teluk Persia juga khawatir bahwa dengan menunjukkan kemampuan Iran dalam membentuk peristiwa-peristiwa di sekitar Selat Hormuz, perang ini telah menciptakan keuntungan yang mungkin tidak akan dilepaskan oleh Teheran, bahkan dengan imbalan atas pengurangan sanksi atau kemajuan dalam isu nuklir sekalipun.

“Iran memelintir tangan orang Amerika dan yang lainnya (menekan mereka dengan keras). Sekarang setelah mereka menemukan harta karun Hormuz ini, mereka tidak akan melepaskannya,” tandas al-Ketbi.

Menurut para analis, kemungkinan besar Washington akan terpaksa menerima pembukaan kembali Selat Hormuz berdasarkan syarat yang sebagian besar ditentukan oleh Iran.

Eyre, sambil menekankan pencapaian Iran setelah perang, mengatakan,”Tidak ada yang akan menang, tetapi kerugian Iran akan lebih kecil daripada kerugian Amerika.”

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *