Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat

Sepakat dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Analis AS: Hubungan UEA-Israel Takkan Bertahan Lama

Sepakat dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Analis AS: Hubungan UEA-Israel Takkan Bertahan Lama

POROS PERLAWANAN – Seorang analis politik AS, Stephen Lendman menilai kesepakatan UEA dengan Israel sebagai sebuah pengkhianatan. Dalam wawancara dengan Tasnim, ia juga mengaku setuju dengan pandangan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei bahwa kesepakatan itu tak akan langgeng.

Berikut ini adalah wawancara Tasnim dengan Lendman:

Tasnim: Pemimpin Revolusi Islam dalam pidatonya menyatakan, ”UEA telah mengkhianati Dunia Islam, negara-negara Arab dan Kawasan, serta Palestina saat menormalisasi hubungan dengan Israel. Tiada keraguan bahwa pengkhianatan ini tidak akan berlangsung lama.” Apa pendapat Anda?

Lendman: Israel sudah sejak lama ingin menormalisasi hubungan dengan negara-negara Arab. Hubungan ini sudah terjalin dengan Mesir, Yordania, dan yang terbaru, UEA. Israel dan Saudi juga memiliki hubungan aneh. Sebelum ini, sejumlah hubungan kedua pihak telah terungkap. Mantan Dubes Saudi untuk AS, Bandar bin Sulthan, pada tahun 2013 diam-diam melawat ke Israel, padahal kedua pihak tidak memiliki hubungan resmi.

Demi meraih kepentingan bersama, hubungan diplomatik, ekonomi, intelijen, dan militer telah dijalin di balik layar. Saudi adalah sekutu Trump dan Netanyahu dalam menghadapi Iran, Suriah, Hizbullah, Hamas, dan hak-hak asasi Palestina. Begitu pula UEA.

Pada hakikatnya, ini adalah pengkhianatan dari dua negara Arab, yang kemungkinan besar tidak akan bertahan lama dan langgeng. Kediktatoran dua rezim ini sudah melewati batas dan tak bisa melanjutkan perang mereka atas kemanusiaan tanpa adanya tantangan. Saya sepakat dengan Ayatullah Khamenei.

Tasnim: Ayatullah Khamenei menambahkan, ”Para penguasa UEA telah membuka pintu Kawasan untuk Zionis. Mereka telah mengabaikan isu Palestina dan menganggapnya sebagai isu biasa. Padahal ini isu yang berkaitan dengan penjajahan dan perampasan sebuah negara. Aib ini akan terus melekat pada diri mereka.”

Apa faktor utama kesepakatan ini? Menurut Anda, kenapa UEA membuka pintu Kawasan untuk Zionis?

Lendman: Hubungan Israel dengan Mesir, Yordania, UEA, dan Saudi adalah persekutuan strategis dan ekonomis. Israel mencari keamanan regional, itu pun didasari pada keberadaan musuh imajiner, bukan nyata. Israel juga butuh pasar-pasar baru untuk ekspor demi mengembangkan ekonominya. Israel menghendaki dukungan regional untuk merampok bagian-bagian penting Palestina tanpa ada halangan.

Tasnim: Para pejabat AS dan Israel pada Senin pekan lalu mengunjungi UEA untuk finalisasi kesepakatan. Mereka mengatakan bahwa kini giliran Palestina untuk berunding soal perdamaian. Jared Kushner mengatakan, ”Washington akan membantu agar Israel tetap menjaga keunggulan militernya di Kawasan, dan di saat yang sama, memperluas hubungan dengan UEA.” Dia berkata, ”Palestina harus lepas dari masa lalu dan datang ke meja perundingan. Ini adalah peluang yang bisa diambil Palestina kapan saja.” Apa pendapat Anda?

Lendman: Selain klaim AS soal “perang versus terorisme”, yang sama sekali tidak benar, ungkapan “perdamaian Palestina dengan Israel” juga merupakan salah satu muslihat dan dusta terbesar dalam sejarah kontemporer. Perdamaian sudah ditolak sendiri oleh AS dan Israel. Mereka berlagak menginginkan perdamaian, namun sudah setengah abad berlalu dan mereka berbuat sebaliknya.

Jika AS dan Israel benar-benar menginginkan perdamaian dengan Palestina, semestinya hal ini sudah terwujud sejak dahulu. Mengingat bahwa Saudi dan UEA berada di sisi Israel demi kepentingan mereka, perdamaian ini tak akan terwujud. Saya yakin, kelak Palestina akan meraih tujuannya, sebab saya percaya bahwa Israel akan gagal mewujudkan impiannya.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *