Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Siapkan Justifikasi Normalisasi dengan Zionis Penjajah, Ulama Wahabi Mulai Simpangkan Makna ‘Welas Asih’ Nabi kepada Yahudi

Siapkan Justifikasi Normalisasi dengan Zionis Penjajah, Ulama Wahabi Mulai Simpangkan Makna 'Welas Asih' Nabi kepada Yahudi

POROS PERLAWANAN – Tiada keraguan bahwa para pemuka Wahabi, selain Dinasti Saud, adalah tiang kedua Pemerintahan Arab Saudi. Akar dari peristiwa bersejarah ini adalah saat Ibnu Saud dan Ibnu Abdul Wahab menjalin kesepakatan.

Kesepakatan itu adalah, Ibnu Abdul Wahab memberikan “dukungan syar`i” untuk perang Ibnu Saud terhadap Muslimin di Semenanjung Arab dan di luarnya. Sebagai imbalannya, Ibnu Saud berkomitmen untuk menjadikan paham Wahabi sebagai mazhab resmi Rezim Saudi, yang dibentuk dengan dukungan Inggris dan AS.

Orang-orang Wahabi masih setia dengan perjanjian lama ini. Nenek moyang mereka, Ibnu Saud dan Ibnu Abdul Wahab, bersikap positif terhadap dilahirkannya Rezim Zionis di jantung Dunia Islam oleh Inggris dan AS. Namun, demi menyembunyikan dukungan ini, para cucu mereka selalu mengecam kaum Yahudi, setidaknya hingga beberapa waktu lalu.

Tampaknya, karier Muhammad bin Salman tak akan melesat kecuali dengan mengkhianati Palestina dan menjalankan Kesepakatan Abad Ini. Pengkhianatan yang sudah dilakukan diam-diam sejak lama ini, sekarang dinyatakan secara terbuka.

Jelas bahwa perubahan metode ini memerlukan perubahan dalam khotbah-khotbah para pemuka Wahabi. Dan ini terjadi persis pada khotbah salat Jumat lalu, yang disampaikan oleh Imam Jumat Mekkah, Abdurrahman Sudais.

Dalam khotbahnya, Sudais menyebut contoh-contoh perlakuan welas asih Nabi Muhammmad Saw kepada Yahudi, yang menyebabkan salah satu dari mereka masuk Islam.

Perubahan dalam khotbah pemuka Wahabi ini, yang tentu dilakukan atas instruksi Kerajaan, adalah tanda bahwa Saudi akan segera mengumumkan normalisasi hubungan dengan Rezim Zionis.

Sudais telah menyiapkan lahan bagi perubahan ini melalui khotbahnya. Khotbah-khotbah yang dahulu berisi kutukan terhadap Yahudi, pekan ini tiba-tiba berubah total.

Sudais mengatakan, ”Tidak mengikuti non-Muslim bukan berarti bahwa kita dilarang berperilaku baik kepadanya, dengan tujuan menarik simpatinya agar ia memeluk agama Islam.”

Ia mengingatkan kepada orang-orang Saudi, bahwa ini adalah jalan nenek moyang mereka, yaitu Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim al-Jauzi, dan Ibnu Abdul Wahhab. Seperti biasa, Sudais menekankan bahwa “rakyat harus menaati para pemimpin dan penguasa (wali amr) mereka.” Bahkan meski para pemimpin ini berzina, melakukan dosa besar, atau menormalisasi hubungan dengan Zionis.

Kepatuhan Sudais terhadap pemimpinnya, yang ingin menjalin hubungan dengan Israel, membuat ia lalai dari dosa besar lain yang tak terampuni. Sudais menggunakan Mekkah, sebagai titik tersuci di Bumi, untuk menyerukan normalisasi hubungan dengan pembunuh warga Palestina, Arab, dan Muslim.

Sudais lupa bahwa Nabi Muhammad Saw menyayangi semua manusia, juga memperlakukan Yahudi secara manusiawi. Namun beliau tidak akan bersahabat dengan para penjajah yang hendak merampas Quds, serta membantai wanita dan anak-anak tanpa dosa.

Maka, sebagaimana orang-orang lain, kita pun perlu mengingatkan Sudais akan ayat ke-8 Surah al-Mumtahanah, “Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada orang-orang yang tidak memerangi kalian dalam agama dan tidak mengusir kalian dari rumah-rumah kalian. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil. Namun Allah melarang kalian berteman dengan mereka yang memerangi kalian dalam agama, mengusir kalian dari rumah, dan bergabung dalam pengusiran kalian. Sesiapa yang berteman dengan mereka, maka mereka adalah orang-orang zalim.”

Tags:

1 Komentar

  1. deljuzar jsmbak September 6, 2020

    naudzubillahmindzalik

    Balas

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *