Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Singkirkan Sejumlah Petinggi Militer Saudi, Trik ‘Cuci Tangan’ Bin Salman dari Fakta Kegagalan Agresi Yaman?

Singkirkan Sejumlah Petinggi Militer Saudi, Trik 'Cuci Tangan' Bin Salman dari Fakta Kegagalan Agresi Yaman?

POROS PERLAWANAN – Pasca penangkapan dan penahanan lebih dari 200 pangeran Saudi di Hotel Ritz Carlton, juga penangkapan mantan Putra Mahkota, Muhammad bin Nayef dan upaya pengejaran Saad al-Jabri, kini giliran para perwira militer Saudi yang tak luput dari “aksi sweeping” Muhammad bin Salman.

Jika tuduhan korupsi atas Komandan Koalisi Saudi, Fahd bin Turki memang benar, maka makna pertamanya adalah bahwa agresi ke Yaman selama lebih dari 5 tahun, selain merupakan pemuasan nafsu kekuasaan Bin Salman, menjadi sebuah ajang untuk melakukan korupsi dan memenuhi kocek para petinggi Saudi, seperti Fahd ini.

Pertanyaan lain yang terlontar adalah, kenapa dalam rentang waktu selama ini, aksi penggelapan uang bisa luput dari pengawasan Kementerian Pertahanan Saudi di bawah kepemimpinan Bin Salman?

Pertanyaan ini akan berujung pada analisis bahwa tuduhan korupsi atas Fahd “hanya sebuah karangan belaka”. Tujuan sebenarnya adalah membuat perhitungan dengan seorang figur berpengaruh di sistem kemiliteran Saudi, atau dengan kata lain, “menyingkirkan para penentang Bin Salman”.

Kemungkinan lain, tuduhan korupsi memang benar ada sejak awal. Namun, karena sejumlah alasan, seperti kepatuhan mutlak Fahd terhadap Putra Mahkota, maka tuduhan ini diabaikan secara sengaja.

Analisis lain adalah Bin Salman tidak becus untuk memanajemen Kementerian Pertahanan, sehingga orang seperti Fahd selama bertahun-tahun sanggup melakukan korupsi.

Analisis mana pun yang diterima, semua berakhir pada satu kesimpulan, yaitu tiadanya kapasitas pada diri Bin Salman untuk menduduki takhta Kerajaan Saudi.

Mutlaq bin Salim, yang diminta Bin Salman untuk menggantikan Fahd, adalah orang yang telah menunjukkan loyalitasnya kepada Putra Mahkota dan Kerajaan. Dia memimpin pasukan yang disebut “Perisai Pulau” dan menggilas kebangkitan rakyat Bahrain pada 2011 lalu.

Nyaris bisa dipastikan bahwa dengan adanya pergantian ini, maka kegagalan Saudi selama agresi ke Yaman akan dilemparkan ke pundak Fahd. Dengan pengadilan atas Fahd dan perwira militer lain yang disingkirkan, Bin Salman akan “dibersihkan” namanya dari noda kegagalan di Perang Yaman.

Kendati di dunia nyata, “Koalisi atas Yaman” hanya tinggal nama dan cuma Saudi serta UEA yang masih bertahan di Koalisi ini, namun bungkamnya Abu Dhabi dan kelompok-kelompok pro-UEA di Yaman terhadap perubahan di jajaran komando Saudi cukup menarik perhatian.

Apakah selain tuduhan korupsi, Fahd juga dituding berpihak kepada UEA?

Kita mesti menunggu hingga semua aspek dari kejadian ini terungkap jelas.

Tags: