Loading

Ketik untuk mencari

Opini Palestina

UEA Gagal Petik Pelajaran ‘Nasib Pahit’ yang Menimpa Mahmoud Abbas Akibat Salah Langkah Layani Zionis

UEA Gagal Petik Pelajaran 'Nasib Pahit' yang Menimpa Mahmoud Abbas Akibat Salah Langkah Layani Zionis

POROS PERLAWANAN – Dipandang dari sudut mana pun, normalisasi hubungan UEA-Israel jelas dilakukan tanpa melihat nasib akhir pihak Palestina yang berkompromi dengan Rezim Zionis.

Dilansir Tasnim, orang-orang Palestina semacam ini adalah contoh hidup untuk perundingan dengan Rezim Zionis; orang-orang yang kini menjadi figur paling dibenci oleh Israel.

Akar kompromi Palestina dengan Israel tercipta pada dekade 90. Yaitu saat Ketua PLO, Yaser Arafat dengan dibantu Mahmoud Abbas (Ketua PNA saat ini) menjalin hubungan rahasia dengan Zionis. Usai hubungan perdana ini terjalin, rapat-rapat rahasia di Oslo pun berlangsung antara tahun 1991 hingga 1993.

Arafat melakukan segala bentuk kerja sama dengan Israel agar perundingan dengan Rezim Zionis membuahkan hasil. Namun dalam proses perundingan Camp David II pada tahun 2000, Israel mengurung Arafat selama hampir satu bulan di tempat itu dan memaksanya untuk menerima syarat-syarat Tel Aviv.

Meski demikian, Arafat tidak bersedia menuruti kemauan AS dan Israel. Akhirnya, ia pun diblokade di kediamannya di Ramallah pada tahun 2002, sampai akhirnya ia mati secara mencurigakan.

Abu Mazen dan Kelanjutan Kompromi dengan Israel

Sejak Arafat berusaha menjalin hubungan dengan kanal-kanal rahasia Zionis untuk berunding, Abu Mazen (julukan Mahmoud Abbas) yang berperan sebagai wakil Arafat dalam melayani Israel. Sejumlah kabar menyebutkan, Abu Mazen bicara buruk soal Arafat di hadapan Israel pasca Perjanjian Oslo hingga kematian mencurigakannya.

Meski demikian, Abu Mazen segera ditahbiskan sebagai pengganti Arafat, karena dia orang nomor dua di PLO. Sejak menjadi Ketua PLO dan PNA pada tahun 2005, ia tak segan-segan melayani Israel. Di akhir perundingan tahun 2014, ia bahkan rela menghapus hak kepulangan pengungsi Palestina dan masalah Quds dari agenda perundingan dengan Israel.

Abu Mazen nyaris tidak mendapatkan apa pun dari negosiasi dengan Rezim Zionis. Israel secara rutin menyingkirkan poin-poin vital seperti Quds, hak kepulangan, keamanan, dan hak perlawanan dari agenda perundingan. Meski begitu, Abu Mazen masih saja mau diajak ke meja perundingan, walau ia terus direndahkan.

Puncaknya adalah saat Trump menjadi Presiden AS dan menggulirkan proyek Kesepakatan Abad Ini, yang praktis membuat semua upaya perundingan Abu Mazen selama 27 tahun sia-sia dan teronggok di tempat sampah.

Selama perundingan dengan Israel, Abu Mazen sudah rela menerima negara Palestina paling minimal, yaitu 20 persen wilayah Palestina. Namun kadar minimal ini pun tidak disetujui Israel. Sebab itu, saat Trump berkuasa, Israel mengumumkan agar orang-orang Palestina melupakan pembentukan negara Palestina. Inilah tembakan final Israel terhadap Abu Mazen.

Israel pada tahun 2010 memberikan kekuatan kepada Muhammad Dahlan dan memproyeksikannya untuk menggusur Abu Mazen.

Di kalangan orang Palestina, Dahlan dikenal sebagai antek Israel. Abu Mazen berusaha menangkapnya pada 2011. Namun Dahlan lalu kabur ke Yordania dan kurang dari setahun kemudian, ia pergi ke Abu Dhabi. Dahlan pun diangkat Muhammad bin Zayed sebagai Penasihat Keamanannya.

Sejak itu, UEA terus memperkuat posisi Dahlan. Di lain pihak, UEA pun secara bertahap memutus bantuan untuk PNA yang dipimpin Abu Mazen. Dengan dibantu Mesir dan Saudi, UEA juga berupaya meyakinkan Abu Mazen untuk mundur dan memberikan posisi kepada musuh nomor satunya, yaitu Dahlan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *