Loading

Ketik untuk mencari

Profil

Syahid Emad Mughniyah, Sosok Pejuang Teladan Poros Perlawanan Versus Israel di Mata Syahid Soleimani

Syahid Emad Mughniyah, Sosok Pejuang Teladan Poros Perlawanan Versus Israel di Mata Syahid Soleimani

POROS PERLAWANAN – Jika kita ingin menyusun daftar para pejuang teladan dalam perlawanan versus Israel di Lebanon, pasti nama Emad Mughniyah akan berada di puncak daftar itu.

Syahid Mughniyah adalah orang nomor dua Hizbullah, sekaligus orang pertama dalam operasi militer Hizbullah. Dia juga dikenal sebagai spesialis di bidang strategi dan politik.

Syahid Qassem Soleimani sangat akrab dengan Syahid Mughniyah. Menurut Sayyid Hasan Nasrullah, Syahid Soleimani masih berduka atas gugurnya Syahid Mughniyah, meski syahadahnya sudah lama berlalu.

Berikut ini adalah deskripsi Syahid Soleimani tentang Syahid Mughniyah.

Syahadah Mughniyah Mengejutkan Dunia Islam

Emad Mughniyah adalah orang yang saat bergaul dengan Anda, ia akan makan, minum, dan menjalani kehidupan normal. Namun keduniawian tak pernah mengikatnya.

Gugurnya Mughniyah membuat Dunia Islam syok berat. Setelah wafatnya Imam Khomeini, saya tak pernah melihat tokoh nonulama seperti Emad, yang syahadahnya membuat Dunia Islam berduka.

Emad Menciptakan Peluang dari Situasi Terburuk

Emad sanggup menciptakan peluang dari situasi terburuk dan keputusasaan yang dibuat musuh. Saat seolah tidak ada lagi harapan, Emad mampu menghancurkan Rezim Zionis dan menyelamatkan Beirut dengan meledakkan pangkalan perwira Israel.

Israel datang ke Lebanon untuk membuat pemerintahan. Namun Emad menggagalkan usaha mereka dengan peluang yang diciptakannya.

Pasukan Lahoud adalah bagian dari Tentara Lebanon yang bergabung dengan Israel. Mereka telah mengambil kendali atas Lebanon. Ini sangat membahayakan, karena selain Tentara Israel, ada juga Tentara Lebanon.

Namun Emad mengubah kekhawatiran ini menjadi peluang. Dia bukan hanya mengalahkan Pasukan Lahoud, tapi juga memaksa Israel minggat dari selatan Lebanon.

Di saat itu, Emad mengejar musuh tanpa memedulikan aspek keamanan dirinya, sampai-sampai musuh meninggalkan sebagian besar senjatanya saat kabur.

Dia Menghunjam Seperti Pedang dan Menghilang Bak Hantu

Emad adalah target utama intelijen Barat, Arab, dan Israel. Selama 25 tahun, dia selalu menggagalkan upaya-upaya mereka. Musuh mengenal dia dengan baik. Sebab itu, mereka membicarakannya dengan nada menyanjung.

Saat kebanyakan orang dikawal pasukan besar, Emad mondar mandir tanpa ditemani, menyelesaikan urusannya, dan keluar. Deskripsi tentang dia sangat akurat, ungkapan seperti “menghunjam seperti pedang dan menghilang bak hantu.”

Dia adalah orang yang pertama kali menyingkap drone musuh dan menggagalkan rencana musuh di selatan Lebanon. Operasi Anshariyah adalah kekalahan terbesar bagi Israel dan berlandaskan pada kemampuan Emad ini.

Dalam pertempuran-pertempuran lalu, Israel menutup jalur Beirut ke selatan Lebanon. Tujuannya adalah agar musuh bisa lebih cepat menguasai Kawasan.

Namun dalam Perang 33 Hari, Emad memberikan kejutan kepada Israel. Angkatan Laut Israel tengah menguasai Kawasan, saat Sayyid Nasrullah tampil di televisi dan mengatakan, ”Kalian lihat sekarang.” Saat beliau mengucapkan kalimat ini, rudal-rudal Hizbullah ditembakkan dan menghancurkan Angkatan Laut Israel.

Iman Emad Mengontrol Akal dan Keberaniannya

Emad spesialis perang gerilya. Namun yang membuatnya mampu menundukkan musuh adalah keterikatannya kepada sesuatu yang jauh lebih tinggi. Ia tersenyum saat dikabari soal syahadah. Rahasia keteguhan di lapangan kembali kepada filosofi keterikatan metafisik ini.

Hal yang membuat Emad lebih berani dibandingkan selainnya adalah keterikatan metafisik ini. Dia tak pernah disibukkan dengan topik bumiah. Tak ada sesuatu duniawi yang bisa mengikat Emad. Akal dan keberanian Emad berada dalam kendali imannya.

Dia orang yang banyak menangis. Suatu kali, saya melihat serial Imam Ridha bersama Emad. Saat adegan Harun memaksa Imam minum racun, Emad menangis keras, sehingga suasana majelis berubah haru.

Emad mengekspresikan rasa syukurnya dengan tangisan. Tiap kali sebuah operasi militer berhasil, dia memanjatkan syukur kepada Allah dengan menangis.

Dia juga rendah hati. Hajj Ridhwan (nama alias Syahid Mughniyah) telah membentuk sebuah kelompok bernama serupa sebelum Hizbullah berdiri. Saat tokoh-tokoh Lebanon diteror, Emad yang saat itu baru berusia 19 tahun, berinisiatif untuk melindungi tokoh-tokoh tersebut.

Meski demikian, selama bergaul dengan Emad, saya tak pernah melihat ia memuji dirinya. Ia tidak pernah mengatakan saya yang melakukan ini dan itu.

Suatu kali, kami mengadakan rapat di selatan Lebanon. Meski semua orang tahu nama Hajj Ridhwan, tapi mereka tidak mengenalnya.

Seseorang berkata kepada Emad, ”Siapa kau yang terus datang dan pergi ke rapat ini? Kau juga harus mencuci piring.” Emad tak berkata apa pun dan mencuci piring. Belakangan, orang-orang baru tahu bahwa Emad adalah Hajj Ridhwan.

Dia Kerap Memberi Kejutan

Emad orang yang penuh dengan kejutan. Dia kerap membuat musuh tercengang. Dia-lah yang mengambil pesawat nirawak musuh dan menggali informasinya secara daring.

Dia pula yang menghubungkan Kelompok Poros Perlawanan Palestina dengan Pusat Poros Perlawanan dan membawa Yaser Arafat untuk pertama kalinya ke Iran.

Emad memberi kekuatan kepada Hamas dan mengaktifkan Front Rakyat Pembebasan Palestina. Pemikiran Emad menjadikan Gaza benteng yang tak tertembus.

Saat ini, Gaza dan Lebanon adalah produsen horor bagi Israel. Sidik jari Emad bisa dilihat di tiap rudal yang ditembakkan Palestina.

Emad Menggagalkan Semua Rencana Musuh

Dia juga aktif di Irak. Hari ini, bahkan musuhnya pun menyanjung Emad. Sebelum ini, saya hanya melihat hal ini pada diri Imam Khomeini. Dia telah menggagalkan rencana-rencana musuh selama 25 tahun.

Banyak pihak yang berusaha menangkapnya. Suatu kali, dia membawa saya ke ruang komando. Dia menunjukkan sebuah jendela dan berkata, ”Ada satu tim yang selalu mengintaiku.”

Dengan semua keistimewaan ini, Emad sangat patuh kepada Ayatullah (Hasan) Nasrullah. Saya menyebut beliau Ayatullah, karena dia menunjukkan tanda-tanda kuasa Allah pada dirinya.

Ayatullah bukan hanya istilah dalam fikih belaka. Sayyid Nasrullah adalah “tanda kuasa Allah yang tegak berdiri”, dan Emad sangat tunduk kepadanya.

Meski kadang berbeda pandangan dengan Sayyid Nasrullah, Emad selalu menjalankan perintahnya. Kadang kala, saat Sayyid Nasrullah sulit tidur karena memikirkan banyak hal, Emad tak akan pergi sebelum beliau tidur. Emad meyakini, Sayyid Nasrullah telah mengangkat martabat Lebanon.

Musuh harus tahu bahwa pembalasan darah Emad Mughniyah bukan sekadar penembakan rudal dan pembunuhan satu orang Zionis. Pembalasan darahnya adalah kehancuran Rezim Zionis. Musuh tahu bahwa ini pasti terjadi. Ini adalah janji Allah yang pasti terwujud.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *