Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Trump Coba Berkelit dan Justifikasi Instruksi Awalnya Halalkan Polisi Tembaki Pengunjuk Rasa

Trump Coba Berkelit dan Justifikasi Instruksi Awalnya Halalkan Polisi Tembaki Pengunjuk Rasa

POROS PERLAWANAN – Dilansir Fars, Presiden AS pada Jumat 29 Mei malam berusaha menjustifikasi statemen kontroversialnya soal perintah penembakan ke arah pengunjuk rasa.

“Penjarahan akan ditindak dengan penembakan. Sebab itu, seorang pria ditembak dan tewas di Minneapolis pada Rabu malam lalu. Atau lihatlah apa yang terjadi ketika 7 orang ditembak di Louisville. Saya tidak ingin ini terjadi. Inilah maksud ucapan saya semalam,” cuit Donald Trump.

“Ucapan ini disampaikan sebagai sebuah fakta, bukan statemen. Sesederhana itu. Seharusnya tidak perlu ada orang yang bermasalah dengan ucapan saya, kecuali para pembenci saya dan mereka yang menimbulkan masalah di medsos,” lanjutnya.

Menurut Associated Press, pada hakikatnya Trump berusaha meluruskan cuitan kontroversialnya dengan mengaitkannya kepada orang yang ditembak polisi saat unjuk rasa.

Sebelum ini, Trump mengancam, jika unjuk rasa untuk memprotes kebrutalan polisi AS terhadap kulit berwarna terus berlanjut, aparat keamanan akan menembaki para pengunjuk rasa.

“Saya tidak bisa hanya berdiri dan menonton kejadian seperti ini di kota besar Minneapolis. Ini (problem) tidak adanya kepemimpinan,” cuit Trump mengomentari serbuan pengunjuk rasa ke markas polisi Minneapolis dan pembakaran yang mereka lakukan.

Trump juga mengkritik kinerja Wali Kota Minneapolis dalam menangani unjuk rasa. Sembari menyebut Jacob Frey sebagai radikal sayap kiri, Trump mengancam akan mengerahkan Garda Nasional AS jika Wali Kota Minneapolis tak sanggup mengendalikan situasi.

Dimuliakan di Iran dan Irak, Dihina di AS

Pasca tewasnya seorang warga Afro-Amerika di tangan Polisi AS, netizen membandingkan perlakuan rasis di AS dengan penghormatan ulama serta al-Hashd al-Shaabi terhadap orang kulit hitam dan wanita.

Foto pertama menunjukkan Ayatullah Hosein Nouri Hamedani yang mencium tangan seorang pelajar agama berkulit hitam.

Sedangkan foto kedua menunjukkan seorang anggota al-Hashd al-Shaabi yang membungkukkan badan agar seorang wanita Irak bisa turun dari kendaraan dengan mudah.

Kedua foto ini disandingkan dengan foto polisi AS yang mengunci leher George Floyd dengan lutut sehingga membuatnya meregang nyawa.

Kedua foto ini menunjukkan bagaimana Islam menghormati kaum wanita dan kalangan minoritas di masyarakat.

Tags:

Fatal error: Allowed memory size of 134217728 bytes exhausted (tried to allocate 4096 bytes) in /www/wwwroot/porosperlawanan.com/public_html/wp-includes/wp-db.php on line 2135