Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Ukur ‘Murka’ AS terhadap Bin Salman, Tanya Biden: Mana Lebih Biadab, Bunuh Khashoggi atau Siksa 20 Juta Warga Yaman?

Ukur 'Murka' AS terhadap Bin Salman, Tanya Biden: Mana Lebih Biadab, Bunuh Khashoggi atau Siksa 20 Juta Warga Yaman?

POROS PERLAWANAN – Dilansir al-Alam, dalam debat terakhir antara para anggota Partai Demokrat untuk menentukan kandidatnya di Pilpres AS, juga debat antara Joe Biden dan Donald Trump, teror atas Jamal Khashonggi menjadi fokus perhatian semua mereka, kecuali Trump. Bahkan Biden sampai mengumbar ancaman bahwa Putra Mahkota Saudi, Muhammad bin Salman mesti bertanggung jawab atas kejahatan ini.

“Kemarahan” orang-orang AS terhadap Bin Salman lantaran pembunuhan Khashoggi tidak terbatas pada Partai Demokrat saja. Bahkan Partai Republik, terutama orang-orang dekat Trump seperti Senator Lindsey Graham pun “murka” terhadap Putra Mahkota Saudi.

Mereka semua menuntut agar Bin Salman diseret ke meja hijau atas kejahatan ini. Mereka juga meminta agar penjualan senjata ke Saudi dihentikan. Tuntutan ini bukan karena senjata-senjata itu digunakan untuk membantai rakyat Yaman, tapi lebih didorong “untuk membalaskan dendam Khashoggi!”

Hal yang perlu dicamkan adalah, Biden -yang marah terhadap Bin Salman atas teror Khashoggi- pernah menjabat sebagai Wapres di Pemerintahan Barack Obama; Pemerintahan yang andai bukan karena dukungannya terhadap Saudi, niscaya negara monarki ini tak akan berani melancarkan agresi ke Yaman pada tahun 2015 lalu, melakukan berbagai kejahatan perang tak manusiawi selama 6 tahun terakhir, dan berkacak pinggang di hadapan hujatan dunia.

Alih-alih hanya murka terhadap Bin Salman lantaran pembunuhan terhadap jurnalis Washington Post itu, sebaiknya Biden, selaku Presiden terpilih AS, membalaskan dendam ribuan warga Yaman, yang tewas, terluka, dan telantar gara-gara ulah Putra Mahkota Saudi.

Kami tidak ingin mereduksi kebiadaban pembunuhan atas Khashoggi. Biden memang berhak marah terhadap Bin Salman. Namun kebiadaban pembunuhan ini tidak seberapa dibanding kekejaman pembunuhan, penelantaran, dan blokade atas lebih dari 20 juta rakyat Yaman, yang “dosa” mereka hanya lantaran tak mau tunduk kepada Riyadh.

Sulit untuk menjustifikasi kemarahan Biden terhadap Bin Salman sebagai “reaksi kemanusiaan.” Namun kalau pun justifikasi ini benar, seharusnya Biden lebih murka mendengar statemen Direktur FAO, David Beasley yang berkata, ”Jika kita terus menutup mata, tiada keraguan bahwa Yaman dalam beberapa bulan mendatang akan terjun ke jurang kelaparan yang membinasakan… Bayang-bayang kematian akan mengancam jutaan pria, wanita, dan anak Yaman akibat kelaparan yang mereka derita.”

Biden lebih tahu dari siapa pun bahwa lampu hijau dari Obama dan Trump-lah yang membuat Bin Salman melakukan kekejian ini. Sebab itu, demi membuktikan “sifat kemanusiaannya”, Biden harus menunjukkan reaksi atas pentolan penjahat perang di Yaman, yaitu Bin Salman.

Tags: