Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Washington Ngotot Belokkan Misi Pasukan Penjaga Perdamaian PBB UNIFIL Menjadi Pelayan Kepentingan AS-Israel Melawan Hizbullah

Washington Ngotot Belokkan Misi Pasukan Penjaga Perdamaian PBB UNIFIL Menjadi Pelayan Kepentingan AS-Israel Melawan Hizbullah

POROS PERLAWANAN – Harian Lebanon, al-Akhbar, dalam laporannya menyatakan, Wakil Lebanon di PBB, Amal Mudallali, mendukung sepenuhnya upaya AS untuk mengubah misi Pasukan Penjaga Perdamaian PBB (UNIFIL).

Menurut sumber-sumber diplomatik al-Akhbar, AS menginginkan sejumlah perubahan di dalam UNIFIL. Di antaranya adalah pengurangan anggaran UNIFIL, pengurangan personel, dan perluasan wewenang UNIFIL agar bisa memasuki properti pribadi, yang tujuan sebenarnya adalah agar bisa memata-matai aktivitas Kelompok Poros Perlawanan.

Al-Akhbar menulis, Mudallali hadir dalam pertemuan segitiga AS-Saudi-Jerman terkait pencantuman Hizbullah dalam daftar teroris PBB.

“Mereka tahu bahwa usulan ini akan diveto Rusia dan China. Sebab itu, mereka berusaha mengubah misi UNIFIL dengan memanfaatkan krisis ekonomi dan Corona untuk menekan Pemerintah Lebanon,” lanjut al-Akhbar, seperti dilansir Fars.

Wakil AS di PBB Kelly Kraft dalam tweet-nya mengklaim bahwa “persenjataan Hizbullah membahayakan rakyat Lebanon.” Sekjen PBB Antonio Guterres dalam laporannya juga menyatakan, kepemilikan senjata di luar kontrol Pemerintah adalah pelanggaran Resolusi 1701.

Guterres meminta agar Istana Kepresidenan Lebanon “bersikap netral.” Dia juga menyeru agar semua pihak di Lebanon tidak terlibat dalam “konflik Suriah” atau konflik-konflik lain di Timteng.

Menurut al-Akhbar, Mudallali bertindak tanpa koordinasi dengan Menlu atau staf Kemenlu Lebanon. Harian ini menyatakan, Pemerintah Lebanon harus segera memanggil Mudallali dan meminta penjelasan darinya.

Terkait tweet Kraft, kantor berita Sputnik menulis bahwa menurut para pakar, Washington ingin agar UNIFIL menjalankan instruksi-instruksinya.

Seorang pakar keamanan dan strategi Lebanon, Charles Abi Nader berpendapat bahwa tekanan AS ini dilakukan dalam rangka perang Israel melawan Lebanon pada umumnya, dan Hizbullah secara khusus.

Abi Nader menilai, Hizbullah tidak melanggar Resolusi 1701 sama sekali. Justru Israel yang kerap melanggar zona Lebanon.

Ia mengatakan, senjata dan rudal Hizbullah selalu diangkat musuh sebagai isu untuk membuat penduduk Lebanon bersikap antipati terhadap kelompok tersebut.

“Hizbullah berhak memiliki senjata, sama seperti AS dan Israel yang memiliki senjata-senjata paling berbahaya. Wajar jika Hizbullah memiliki sarana yang diperlukan untuk melindungi dirinya dan Lebanon,” kata Abi Nader.

Ia menandaskan, misi UNIFIL hendak diubah agar sesuai dengan kehendak Washington. Dengan kata lain, AS ingin agar UNIFIL bisa dikendalikan dari ruang komando AS-Israel.

Tags: