Loading

Ketik untuk mencari

Afrika

5 Faktor Kenapa Sudan jadi ‘Sasaran Tembak’ Proyek Normalisasi Zionis Israel

5 Faktor Kenapa Sudan jadi 'Sasaran Tembak' Proyek Normalisasi Zionis Israel

POROS PERLAWANAN – Ketua Partai al-Ummah Sudan, al-Shadiq al-Mahdi dalam statemennya menjabarkan beberapa hal, yang disebutnya sebagai alasan kenapa Khartoum menjadi target untuk normalisasi dengan Tel Aviv.

Dikutip Fars dari Anadolu, al-Mahdi, yang partainya adalah bagian dari aliansi yang memerintah Sudan, memberi judul “Hubungan antara Kompromi, Menyerah, dan Separatisme” untuk statemennya.

Al-Mahdi adalah politisi terkemuka Sudan yang pernah menjabat sebagai PM negara tersebut. Pertama pada periode 1966 hingga 1967, kemudian dari 1986 hingga 1989. Dia dikudeta oleh Omar al-Bashir pada 1989, yang akhirnya digulingkan pada 2019.

Dalam statemen itu disebutkan, ”Sudan terhubung ke Gurun Besar Afrika dari arah utara. Gurun Besar Afrika merupakan gurun panas terbesar di dunia, yang terletak di utara Afrika seluas 9 juta 200 ribu kilometer persegi. Gurun luas ini terbentang dari barat ke Samudera Atlantik, dari utara ke Pegunungan Atlas dan Laut Mediterania, dari timur ke Laut Merah dan Mesir, dan dari selatan ke Sudan dan Lembah Nil. Gabungan dari faktor geopolitik, budaya, dan suku ini membuat Sudan memiliki peran penting di Arab dan Afrika.”

“Faktor kedua adalah fakta bahwa Sudan sebagai tetangga Mesir, merupakan konsumen terbesar air Sungai Nil, dan Ethiopia adalah produsen terbesar air Nil. Lantaran adanya sebuah perseteruan antara dua negara ini, maka potensi perang antara keduanya harus dicegah, karena dampaknya sangat destruktif dan bahkan sama saja dengan bunuh diri untuk keduanya,” lanjut al-Mahdi.

Faktor ketiga, menurutnya, adalah Sudan memiliki peran penting bagi pembangunan antara dua bagian Laut Merah, di mana sebelah baratnya adalah negara-negara yang memiliki banyak sumber kekayaan alam, dan di sebelah timurnya adalah negara-negara yang memiliki banyak sumber finansial.

Menurut al-Mahdi, faktor keempat adalah keberadaan sistem politik di Sudan yang menerima keragaman pemikiran dan politik serta menjadikannya bagian dari konstitusi.

Faktor kelima adalah kegagalan “Tiga Tidak, Bersejarah” Sudan, yang kegagalan ini dikaitkan sebagian pihak dengan klaim-klaim tak berdasar.

Hanya 2 bulan setelah Perang 6 Hari tahun 1967, konferensi para pemimpin Arab di Khartoum menyatakan “Tiga Tidak” kepada Israel, yaitu “Tidak untuk Pengakuan (Israel), Tidak untuk Perundingan, dan Tidak untuk Perdamaian.”

Al-Mahdi menegaskan, normalisasi dengan Israel dengan cara pemerasan saat ini adalah pertanda tiadanya pengetahuan terhadap martabat rakyat Sudan. Menurutnya, bahkan para pendukung normalisasi ini kelak akan merasa “asing” dengan kesepakatan hina ini.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *