Loading

Ketik untuk mencari

Arab Saudi Palestina

Ada Tangan Kotor Pasukan Siber Saudi di Balik Pembuatan Slogan Viral ‘Palestina Bukan Urusanku’ yang Sengaja Kesankan Permusuhan Rakyat Arab terhadap Warga Palestina

POROS PERLAWANAN – Tweet massif Anti-Palestina secara mengejutkan menjadi tren lewat slogan “Palestine is not my cause” (Palestina bukan urusanku) di Arab Saudi.

Konon, slogan itu adalah respons atas munculnya kampanye aktivis Palestina dalam bentuk karikatur dan meme yang “mengejek” kejatuhan harga minyak. Kartun bikinan seniman Palestina itu dianggap menghina Putra Mahkota, Mohammad bin Salman.

Khaleed Al-Jayousi, seorang kepala auditor di Al-Mana International Holding, Qatar, menulis opini di harian Raialyoum tentang fenomena tersebut.

“Perang di Sela-sela Jatuhnya harga Minyak Saudi, Serangan Saudi terhadap Palestina, latar belakang di balik karikatur seniman Palestina yang mengilustrasikan pemandangan negara-negara minyak, saat satu barel minyak tak sebanding dengan harga makanan cepat saji.” Itu judul opini yang dipilih Al-Jayousi.

Dia juga menyoal “argumen, dendam dan tuduhan” orang-orang Saudi kepada orang-orang Palestina, yang melatarbelakangi munculnya ungkapan “Palestine is not my cause”.

Menurut para aktivis, slogan itu adalah ciptaan cyber army (pasukan siber) Saudi, bukan merepresentasi sikap rakyat Arab Saudi.

Sejumlah akun medsos bahkan memposting serangan-serangan tajam terhadap Palestina dan rakyatnya. Akun dengan username Mohamed Alsalboukhi, dengan pengikut 24 ribu, misalnya, ia menuduh orang Palestina tidak bisa dipercaya dan menjual tanah mereka kepada orang-orang Yahudi.

Beberapa akun juga mempublikasikan tweet sarkastik, “Tidak ada negara bernama Palestina. Yang ada adalah Israel.” Sementara pegiat lain berasumsi, “mengapa Saudi tidak akan pernah berkontribusi dalam upaya perbaikan persoalan-persoalan Palestina”.

Semua ini hanya contoh kecil dari daftar panjang tuduhan-tuduhan orang-orang Saudi kepada penduduk Palestina.

Namun sejumlah aktivis Pro-Palestina menanggapi hal tersebut dengan membuat slogan tandingan, “Palestine is my cause” (Palestina adalah urusanku). Mereka menyerang balik rezim Saudi yang selain bermesraan dengan AS, juga melakukan upaya normalisasi hubungan dengan Israel, dan menjadi pelopor antagonisme bangsa Arab dan Islam.

Sebelumnya, aktivis dan jurnalis Palestina memperingatkan eksploitasi kekayaan Arab Saudi oleh pemerintahan Donald Trump, di balik penurunan tajam harga minyak mentah, juga belanja-belanja rezim yang mubazir dalam perang Yaman yang absurd.

Peringatan para aktivis itu membangkitkan kemarahan orang Saudi. Ini juga yang memicu munculnya ungkapan “Palestine is not my cause”. Belum lagi munculnya karikatur satire karya seniman Mahmoud Abbas yang membidas “krisis minyak, jatuhnya harga secara global, juga dampaknya kepada negara-negara Teluk.”

Tampaknya, persoalan krisis minyak dan dampak negatifnya bagi kesejahteraan rakyat Teluk dan Arab Saudi menjadi penghalang terwujudnya obsesi penguasa negara-negara itu. Rezim Saudi, misalnya menggantungkan sebagian besar anggarannya pada penjualan minyak.

Saat terjadi krisis, nyata sekali bahwa rezim Saudi dan pedagang minyak lain berusaha keras “membayar” pembeli, dengan harapan para broker ini kembali menjalankan bisnis komoditas (minyak) mereka yang sudah “lebih murah dari harga makanan cepat saji”.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *