Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Tak Tahu Malu, Sudah Nyatakan Diri Keluar Dua Tahun Lalu, Kini AS Mendadak Klaim ‘Masih Bagian dari JCPOA’ demi Perpanjang Embargo Senjata atas Iran

Tak Tahu Malu, Sudah Nyatakan Diri Keluar Dua Tahun Lalu, Kini AS Mendadak Klaim 'Masih Bagian dari JCPOA' demi Perpanjang Embargo Senjata atas Iran

POROS PERLAWANAN – Dilansir Fars, harian New York Times dalam laporannya membahas pernyataan terbaru Menlu AS terkait perpanjangan embargo persenjataan atas Iran.

“Mike Pompeo tengah menyusun sebuah argumentasi hukum, untuk menetapkan bahwa ‘Washington masih merupakan partisipan dalam kesepakatan nuklir Iran (JCPOA).’ Padahal Donald Trump sudah keluar dari kesepakatan itu sejak 2018 lalu dan menyebutnya sebagai ‘kesepakatan terburuk dalam sejarah AS’”, tulis New York Times.

Menurut New York Times, langkah ini adalah bagian dari strategi rumit untuk menekan Dewan Keamanan PBB. Tujuannya adalah memperpanjang masa pembatasan persenjataan PBB atas Iran, atau pemberlakuan sanksi-sanksi yang lebih berat.

Dalam beberapa hari terakhir, strategi ini telah digulirkan para pejabat AS guna mengesahkan sebuah resolusi baru di Dewan Keamanan. Resolusi itu akan melarang negara-negara dunia mengekspor senjata konvensional ke Iran.

Meski demikian, New York Times menulis bahwa upaya apa pun untuk memperbarui pembatasan persenjataan atas Iran pasti akan ditentang Rusia dan China di PBB, baik langsung maupun tidak langsung.

Menurut laporan media AS ini, Rusia sebelum ini telah memberitahu negara-negara Eropa bahwa “Moskow tidak sabar untuk bisa menjual senjata-senjata konvensional kepada Iran.”

Pompeo dikabarkan tengah menggodok sebuah proposal, yang menurut New York Times, akan ditentang para sekutu Eropa Washington sendiri. Berdasarkan proposal tersebut, AS secara substansial masih dipandang sebagai salah satu partisipan JCPOA.

Tujuan proposal itu agar AS bisa menggunakan Mekanisme Pelatuk (trigger mechanism) untuk mengancam Iran. Ancaman itu berupa pengaktifan kembali semua sanksi-sanksi sebelum JCPOA. Jika nanti embargo persenjataan atas Iran tak diperpanjang Dewan Keamanan, AS akan menggunakan hak (yang diklaimnya sendiri) ini sebagai “salah satu pihak dalam JCPOA.”

New York Times melaporkan, para diplomat Eropa yang mengetahui upaya-upaya AS ini mengatakan, Trump dan Pompeo bertindak seenaknya keluar masuk JCPOA hanya demi mewujudkan kepentingan AS.

“Keseluruhan drama ini bisa dipentaskan pada musim gugur tahun ini dan sebelum Pilpres AS; sebuah perang potensial dengan Iran di tengah kampanye Pilpres Trump,” tulis New York Times.

Berdasarkan salah satu pasal Resolusi 2231, Iran dilarang membeli senjata-senjata ofensif selama lima tahun. Pasal ini akan berakhir pada Oktober 2020 mendatang. Setelah itu, Iran bisa membeli persenjataan dari negara-negara asing.

New York Times lalu mengutip pernyataan dari Wendy Sherman (negosiator senior dalam Pemerintahan Obama). Menurut Sherman, Rusia dan China tak pernah menginginkan embargo persenjataan atas Iran. Mereka mungkin masih mau menyepakati perpanjangan jangka pendek.

Sherman memprediksi, segala upaya Pemerintahan Trump untuk menggunakan Mekanisme Pelatuk pasti akan mendapat penentangan serius. Namun, menurutnya, ini tidak berarti bahwa Washington tidak akan mencoba upaya tersebut.

Seorang diplomat Eropa, yang enggan namanya dipublikasikan, menyatakan bahwa frasa-frasa dalam teks JCPOA terlalu kuat untuk bisa dipatahkan dengan argumen-argumen AS.

Tags: