Loading

Ketik untuk mencari

Oseania & Asia

China Ungkap Upaya Kekuatan Dominasi Kutub Tunggal Sulut ‘Revolusi Warna’ di Asia

China Ungkap Upaya Kekuatan Dominasi Kutub Tunggal Sulut 'Revolusi Warna' di Asia

POROS PERLAWANAN – Menjelang lawatan ke Moskow, Menlu China Wang Yi memperingatkan upaya sejumlah kekuatan asing untuk membuat “Revolusi Warna” di Asia.

“Akhir-akhir ini, hubungan antara China dan negara-negara tetangga berkembang di jalur positif. Namun di saat yang sama, instabilitas di dunia meningkat dan keamanan global menghadapi berbagai rintangan serta tantangan baru,” kata Wang Yi, seperti dikutip Fars dari kantor berita TASS.

“Organisasi-organisasi teroris global dan tiga pasukan setan (terorisme, radikalisme, dan separatisme) telah memperluas aktivitas mereka di Kawasan,” imbuhnya.

“Sejumlah kekuatan asing menggunakan berbagai cara untuk melakukan intervensi, bahkan menyulut gelombang baru ‘Revolusi Warna’. Di sisi lain, mereka mengarang setumpuk dusta untuk menjaga keunggulan kutub tunggal.”

“Mereka juga sengaja mendiskreditkan Rusia, China, dan beberapa negara lain yang tengah berkembang pesat, serta melakukan tekanan tanpa alasan atas negara-negara ini. Bahkan, mereka memaksa sejumlah negara untuk memilih para sekutu dan berusaha menciptakan Perang Dingin baru,” papar Wang Yi.

“Tindakan semacam ini menginjak batas-batas hubungan internasional dan bertentangan dengan kepentingan bersama berbagai negara. Tindakan seperti ini bakal ditolak komunitas dunia dan akan meninggalkan aib dalam sejarah,” lanjutnya.

Dia lalu menandaskan, ”Rusia, Asia Tengah, dan Mongol adalah tetangga-tetangga penting di barat laut China. Beijing memberikan banyak perhatian terhadap situasi di kawasan ini. China secara tulus mengharapkan kesejahteraan dan stabilitas jangka panjang bagi negara-negara di Kawasan.”

Sebelum ini, Menhan AS Mark Esper mengatakan, ”Di era persaingan kekuatan-kekuatan besar, Kemenhan AS memprioritaskan Rusia dan China sebagai rival strategis pentingnya.”

Tanpa menyinggung intervensi Washington dalam urusan internal Hong Kong dan Taiwan, Esper mengkritik pergerakan Beijing di Laut China Selatan dan timur China, serta menyebutnya sebagai “tindakan yang melemahkan tatanan global”.

Tags: