Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Dagelan Terlucu Abad ini: Terusik Empatinya atas Satu Kasus Corona, Amerika yang ‘Dermawan’ dan Trump yang ‘Baik Hati’ Janji Hapus Derita Rakyat Yaman

Dagelan Terlucu Abad ini: Terusik Empatinya atas Satu Kasus Corona, Amerika yang 'Dermawan' dan Trump yang 'Baik Hati' Janji Hapus Derita Rakyat Yaman

POROS PERLAWANAN – Kantor berita Reuters pada hari Selasa 21 April lalu mengabarkan, seorang pejabat senior di Kementerian Luar Negeri AS menyatakan bahwa negaranya tengah mempersiapkan “bantuan yang cukup lumayan” kepada Yaman guna memerangi pandemi Corona.

Pejabat senior AS ini meminta kepada Reuters agar tidak memublikasikan identitasnya. Padahal dia sedang membicarakan “kedermawanan” Donald Trump untuk membantu Yaman memerangi Corona; negara yang hingga saat ini hanya melaporkan satu kasus positif Corona.

Sepertinya pejabat tersebut memilih tetap anonim karena kerendahan hatinya, atau keyakinannya bahwa perbuatan baik seharusnya disembunyikan.

Kami tidak bermaksud melukai “perasaan kemanusiaan” Trump, atau mempertanyakan “motif-motif kemanusiaan” dari rencana yang tengah digodoknya untuk mengirim “dana besar” kepada rakyat Yaman.

Namun, dengan melihat sanksi yang dijatuhkan Washington kepada WHO, masih ada keraguan dan kebimbangan tentang niat Trump dan “kedermawanannya” ini.

Di sini ada sejumlah pertanyaan terkait “sisi kemanusiaan” Trump dan “kecintaannya untuk memberikan sumbangan kepada umat manusia”, terutama “rasa simpatinya” kepada rakyat Yaman dan upayanya untuk “mengurangi penderitaan dan kesengsaraan mereka” di tengah pandemi Corona.

Pertama, apakah Putra Mahkota Saudi, Muhammad bin Salman bisa tetap melancarkan agresi ke Yaman, membantai ratusan ribu rakyatnya yang tak berdosa, membuat mereka kelaparan, dan menelantarkan mereka tanpa lampu hijau dari AS?

Kedua, siapakah yang bertanggung jawab atas hancurnya infrastruktur Yaman, runtuhnya sistem kesehatan, dan munculnya paceklik serta wabah di tengah rakyat negara tersebut?

Ketiga, bagaimana bisa “rasa kemanusiaan” Trump tiba-tiba terusik saat mendengar adanya satu kasus positif Corona di Yaman, namun sebelum ini perasaannya tak tergugah saat mendengar penderitaan, kelaparan, dan terbunuhnya anak Yaman tiap 10 menit?

Keempat, kenapa “perasaan kemanusiaan” Trump tak tersentuh mendengar penyebaran Corona di negara-negara lain, yang telah dijatuhi sanksi AS sehingga tak bisa mengimpor perangkat medis dan obat-obatan untuk memerangi Corona? Padahal lembaga-lembaga internasional dan banyak negara telah menuntut agar perang segera diakhiri dan sanksi-sanksi dicabut?

Kelima, adakah seseorang yang bisa percaya bahwa Trump akan merogoh koceknya untuk membantu orang-orang lain, apalagi jika mereka adalah orang-orang yang memihak Poros Perlawanan?

Keenam, bahkan jika diasumsikan bahwa Trump benar-benar berniat mengirim bantuan ke Yaman untuk memerangi Corona, tetap saja bantuan itu tak akan sampai ke tangan orang-orang Yaman.

Washington lebih tahu daripada Bin Salman bahwa agresi ke Yaman sudah gagal. Semua negara agresor, terutama AS, harus merehabilitasi citra mereka di mata dunia dan rakyat Yaman.

Meski demikian, semua upaya Trump untuk memulihkan namanya ini akan gagal dengan satu alasan sederhana, yaitu bahwa wajah buruk AS adalah “bawaan dari lahir dan tak bisa dipoles dengan operasi plastik.”

Sumber: Munib al-Saih, al-Alam

Tags: