Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Demokrasi ala AS, Ibarat Dagangan Rusak yang Dikembalikan kepada Mereka Sendiri

Demokrasi ala AS, Ibarat Dagangan Rusak yang Dikembalikan kepada Mereka Sendiri

POROS PERLAWANAN – Para politisi AS berusaha melemparkan tanggung jawab kerusuhan hari Rabu 6 Januari lalu ke pundak kelompok radikal. Di hari itu, para pendukung Donald Trump menyerbu Capitol Hill dan menyebabkan sejumlah orang tewas atau terluka.

Dilansir al-Alam, tudingan ini diarahkan kepada kelompok radikal dengan mengabaikan faktor utama dari kerusuhan ini. Para pelaku menyerbu Kongres AS setelah mereka dicecoki klaim Trump soal terjadinya kecurangan di Pilpres dan diprovokasi olehnya selama 2 bulan terakhir.

Hal yang patut dicamkan adalah bahwa para elite politik AS, yang kini mengklaim sebagai pembela demokrasi, hanya mengkritik Trump dari sekian banyak orang yang terlibat dalam kerusuhan tersebut, termasuk tim kampanyenya.

Padahal, bukan hanya Trump yang selama ini mengumbar klaim soal kecurangan Pilpres. Para anggota senior dan petinggi Republik, bahkan sebelum Trump, telah berkoar soal terjadinya kecurangan. Mereka menuntut agar hasil Pilpres ditolak atau meminta pengulangan Pilpres di sejumlah Negara Bagian penting dan menentukan.

Puluhan anggota Republik, baik di Senat atau DPR, yang terjebak di dalam Capitol Hill pada Rabu silam, bukan hanya berpandangan serupa dengan para perusuh, bahkan mereka sendiri lebih berbahaya bagi “demokrasi AS” dibanding pelaku penyerbuan.

Sebab, ketika kelompok-kelompok radikal mendengar langsung dari Presiden dan para wakil mereka bahwa sistem politik AS sudah rusak, mereka tak punya jalan selain kekerasan untuk mengubah keadaan. Inilah yang kemudian menyulut kerusuhan dan serbuan ke Kongres di Washington.

Alih-alih menghukum Presiden, para legislator, dan dalang utama provokator, sistem politik AS justru berusaha untuk melacak para perusuh melalui klip dan foto-foto yang tersebar. Di antara mereka ada yang ditangkap dan ada pula yang dipecat dari pekerjaan.

Di lain pihak, Trump dan petinggi Republik, yang merupakan dalang utama insiden, masih bebas berlenggang kangkung tanpa ditindak. Sistem politik AS pun masih belum bisa melengserkan Si Presiden, yang berdasarkan kesaksian banyak orang adalah psikopat dan bahaya bagi AS serta dunia.

Insiden pekan lalu pada hakikatnya merupakan awal dari sebuah peristiwa besar, juga pertanda dari sebuah masyarakat yang dibangun atas rasisme dan kapitalisme liar; masyarakat yang hartanya hanya dipegang satu persen rakyat dan sistem politiknya dikuasai oleh para pencari laba dari jual-beli senjata; masyarakat yang dibangun di atas demokrasi palsu.

Apa yang dilihat dunia pada Rabu silam merupakan wajah asli demokrasi ala AS; demokrasi yang begitu dibangga-banggakan AS selama berdekade-dekade lalu; demokrasi yang dijadikan dalih oleh AS untuk mengacaukan stabilitas dunia.

Idiot seperti Trump, secara tidak sadar, telah menunjukkan wajah asli demokrasi ini kepada dunia. Demokrasi ibarat barang dagangan rusak yang dikembalikan ke penjualnya, dan dunia telah melihat bagaimana rakyat AS telah mencicipi rasa barang rusak tersebut.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *