Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Fakta Membuktikan, Janji Manis ‘Timteng Lebih Aman dan Sejahtera Berkat Normalisasi’ Mustahil Terwujud

Fakta Membuktikan, Janji Manis 'Timteng Lebih Aman dan Sejahtera Berkat Normalisasi' Mustahil Terwujud

POROS PERLAWANAN – Rezim Zionis sudah sejak lama menjalin hubungan dengan negara-negara Arab pelaku normalisasi, seperti Bahrain. Sebab itu, deklarasi kesepakatan keduanya bukan sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba.

Dilansir al-Alam, ini adalah sesuatu yang diakui sendiri oleh PM Israel, Benyamin Netanyahu dalam jumpa pers bersama Menlu Bahrain, Abdullatif al-Zayani di Tel Aviv. Dalam jumpa pers itu, Netanyahu juga mengutarakan harapan agar negara-negara Arab lain juga bergabung dalam konvoi normalisasi.

Pasca penandatanganan kesepakatan normalisasi Dinasti Al Khalifa dengan Rezim Zionis, ini merupakan kunjungan pertama Menlu Bahrain ke Israel. Dalam jumpa pers itu, al-Zayani mengatakan bahwa dirinya akan berdialog dengan Menlu AS, Mike Pompeo dan Netanyahu terkait cara-cara implementasi normalisasi.

Al-Zayani juga mengabarkan bahwa ada 14 penerbangan tiap pekan antara Israel dan Bahrain. Menlu Israel, Gaby Ashkenazi juga mengumumkan, kedua belah pihak telah sepakat untuk membuka Kedubes. Selain itu, Ashkenazi juga menekankan penguatan kerja sama ekonomi antara Tel Aviv dan Manama.

Pompeo, yang memulai lawatan ke Kawasan untuk menjalankan proyek dan konspirasi AS terkait Palestina, mengapresiasi rencana dibukanya jalur penerbangan Bahrain-Israel. Dia menyebut keputusan ini sebagai “kemenangan strategis yang diperoleh berkat upaya AS untuk mematahkan boikot Arab atas Israel”.

Pada pertengahan Agustus lalu, Donald Trump mencuit bahwa UEA dan Israel berencana untuk melakukan pertukaran Dubes dan kerja sama di semua bidang. Ia menyebut kesepakatan UEA-Israel sebagai langkah penting untuk “menciptakan Timteng yang lebih stabil, aman, dan sejahtera”.

Cuitan Trump mengonfirmasi tekad Israel dan UEA, juga Bahrain, untuk mewujudkan kerja sama di berbagai bidang. Ini juga menunjukkan ambisi besar Pemerintah AS untuk memaksa negara-negara Arab mengakui Rezim Zionis, serta memuluskan jalan bagi rezim ini untuk menguasai semua perlintasan Arab. Dengan demikian, Israel akan lebih mudah untuk mewujudkan tujuan-tujuan geopolitiknya di Kawasan.

Dubes AS untuk Israel, David Friedman mengatakan kesepakatan UEA-Israel disebut dengan “Kesepakatan Abraham.” Alasannya, Nabi Ibrahim as adalah ayah tiga agama besar Islam, Kristen, dan Yahudi. Trump juga mengklaim bahwa normalisasi akan membawa keamanan, stabilitas, dan kesejahteraan untuk Timteng.

Namun statemen “manis” Trump ini ibarat madu bercampur racun, sebab pengalaman menunjukkan tidak ada keamanan, stabilitas, dan kesejahteraan di tempat-tempat yang dipijaki AS.

Barangkali upaya AS dan Trump untuk melindungi kepentingan Israel akan berhasil, secara lahiriah, di UEA dan negara-negara Arab pelaku normalisasi. Namun hal ini tak akan menciptakan perubahan geopolitik. Sebab, para penguasa ini tidak merepresentasikan rakyat mereka saat melakukan normalisasi. Rakyatlah yang akan menentukan masa depan dan mewujudkan tujuan-tujuan mereka, termasuk membebaskan Palestina dari cengkeraman Rezim Zionis.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *