Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Ironi AS: Berniat Kucilkan Iran, Malah Terpinggir Sendiri dan Diabaikan

Ironi AS: Berniat Kucilkan Iran, Malah Terpinggir Sendiri dan Diabaikan

POROS PERLAWANAN – Ketika Presiden AS, Donald Trump keluar dari kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) dan berkhayal akan mengucilkan Iran, tak seorang pun berpikir bahwa suatu hari nanti, justru AS yang akan diabaikan, bahkan oleh para sekutunya sendiri.

Keterkucilan AS kian jelas saat Menlu AS, Mike Pompeo berusaha meyakinkan anggota Dewan Keamanan PBB, juga negara-negara lain, untuk memperpanjang embargo senjata Iran. Namun usaha ini gagal, dan dia hanya bisa memperoleh dukungan satu dua negara saja.

Menurut para pengamat, salah satu faktor keterkucilan dan kegagalan kebijakan AS di kancah internasional adalah kepribadian Trump, juga ide-ide gila Pompeo dan John Bolton. Namun sebenarnya, faktor utamanya adalah keteguhan dan perlawanan rakyat Iran dalam menghadapi sanksi-sanksi AS, yang bahkan juga meliputi bahan makanan dan obat-obatan.

Faktor penting lain adalah kecerdikan Iran dalam menyikapi JCPOA. Kendati AS keluar dari perjanjian ini dan negara-negara Barat tidak memenuhi komitmen mereka, Teheran tetap menunjukkan komitmennya di JCPOA.

Kebijakan Iran ini mementahkan segala upaya kaum radikal Zionis di AS, yang berupaya mengesankan Iran sebagai “negara pelanggar aturan di pentas internasional.” Sebaliknya, saat ini dunia justru melihat AS sebagai negara yang gemar melanggar hukum internasional. Sebab itu, hanya Israel dan Saudi yang mendukung kebijakan-kebijakan Trump.

Skandal lain yang kian membuat Trump terpinggirkan, adalah permohonan Sekjen GCC Nayef al-Hajraf dari Dewan Keamanan PBB untuk memperpanjang embargo senjata Iran. Semua tahu bahwa surat itu sebenarnya “produk Saudi” dan dikirim tanpa koordinasi dengan anggota GCC. Buktinya, seorang pejabat senior Qatar menyatakan, Iran adalah negara sahabat dan tetangga. Surat al-Hajraf disebutnya tidak mencerminkan sikap Doha.

Iran, yang dahulu akan dikucilkan oleh Trump, kini di ambang kesepakatan dagang senilai ratusan miliar dolar dengan China. Kapal-kapal tankernya juga mengarungi samudera untuk mengantar BBM ke Venezuela. Eropa juga berusaha berkelit dari sanksi-sanksi AS dan ingin menjalin hubungan dengan Teheran.

Semua inilah yang membuat Brian Hook, ujung tombak Kebijakan “Tekanan Maksimum” AS atas Iran, mundur dari jabatannya. Dia mundur hanya beberapa bulan sebelum diadakannya Pilpres AS, yang jika dilihat dari hasil berbagai jajak pendapat, Trump tak punya banyak peluang untuk memenangkannya.

Tags: