Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Jejalkan Dusta di Sela Fakta, AS Sebar Fiksi Imajiner Soal Teror Syahid Soleimani

Jejalkan Dusta di Sela Fakta, AS Sebar Fiksi Imajiner Soal Teror Syahid Soleimani

POROS PERLAWANAN – Ketika mendapat informasi dari harian dan media Barat, terutama AS, banyak orang yang spontan menerimanya sebagai sebuah fakta tak terbantahkan. Dengan memaparkan sejumlah rahasia, yang pembeberannya tidak bertentangan dengan kepentingannya, Barat berusaha menciptakan kebiasaan ini di tengah audiensnya, dengan menjejalkan sejumlah besar dusta di antara berita-berita benar.

Sekilas, banyak buku, artikel, dan wawancara panjang yang dipublikasikan tiap hari di AS dan Barat berisi info-info yang benar. Namun, dengan sedikit ketelitian, kita bisa melihat “sebuah dusta” yang diselipkan di antara info-info tersebut.

Pada hakikatnya tujuan utama dari publikasi buku, artikel, dan wawancara tersebut adalah pembeberan dusta itu; dusta yang menyebut orang Barat “sangat kuat, cerdas, maju, dan berperadaban”. Sementara pihak lainnya, yang biasanya adalah orang Arab dan Muslim, terpaksa mengakui “kelemahan dan keterbelakangannya”.

Contoh terbaik untuk perlakuan Barat terhadap selainnya ini adalah buku “Rage” yang ditulis jurnalis terkemuka AS, Bob Woodward, dan akan segera dipublikasikan. Woodward menyisipkan kebohongan besar di antara fakta dan informasi. Info-info ini adalah fakta yang sudah diketahui tentang Donald Trump, yang sebelum ini pun sudah dipublikasikan media-media AS.

Dusta besar yang diselipkan Woodward dalam bukunya, seperti yang ditulis juga oleh harian Business Insider, adalah klaim bahwa Trump menggulirkan ide teror atas Syahid Qassem Soleimani “hanya 4 hari sebelumnya.” Dan ide itu pun terbersit di benak Trump di lapangan golf di Florida!

Agar dusta ini tampak lebih dramatis, Woodward menulis, ”Trump memaparkan ide ini hanya beberapa hari sebelum teror saat bermain golf di Florida. Saat itu, ia bermain dengan Senator dari Republik, Lindsey Graham, yang merupakan salah satu penasihat terpentingnya. Staf Senior Gedung Putih, Mick Mulvaney, pada hari itu menghubungi Graham untuk meyakinkan Trump guna mengubah idenya soal teror. Namun Trump tetap bersikeras.”

Meski berselisih paham dengan Trump, namun pandangan Woodward soal AS, Barat dan selainnya tidak jauh berbeda dengan pandangan Trump. Sebab itu, ia berusaha meremehkan kedudukan Syahid Soleimani, orang yang telah menggagalkan proyek AS di Timteng. Ia berupaya mengesankan bahwa rencana teror atas Syahid Soleimani dibuat secara spontan oleh Trump tanpa berkonsultasi dengan siapa pun, itu pun hanya 4 hari sebelumnya.

Sebenarnya, tujuan asli Woodward bukanlah menunjukkan kebodohan dan sifat keras kepala Trump, tapi meremehkan Iran dan Syahid Soleimani, serta menegaskan “kekuatan AS”. Versi Woodward ini tak lebih dari sebuah dongeng yang berasal dari imajinasi ala Amerika.

Tags: