Loading

Ketik untuk mencari

Irak

Kerja Sama dengan Jaringan Korporasi AS Sama Sekali Tak Berguna bagi Rakyat Irak

Kerja Sama dengan Jaringan Korporasi AS Sama Sekali Tak Berguna bagi Rakyat Irak

POROS PERLAWANAN – Anggota Aliansi Fath di Parlemen Irak, Muhammad al-Baldawi mengkritik keras korporasi-korporasi AS yang beraktivitas di negaranya.

Dikutip al-Alam dari al-Maalomah, al-Baldawi menyatakan bahwa sejak invasi AS ke Irak tahun 2003 hingga kini, korporasi-korporasi Negeri Paman Sam tidak memberikan keuntungan nyata sama sekali.

Menurutnya, korporasi-korporasi ini menandatangani kesepakatan dengan Irak. Namun setelah itu, mereka justru menyerahkannya kepada kontraktor kedua, sehingga tidak membuahkan hasil apa pun.

Legislator Irak ini menegaskan, perjanjian semacam ini tidak ada nilainya sama sekali. Al-Baldawi menuntut agar Pemerintah dan menteri-menteri Irak mencari korporasi-korporasi kredibel di dunia, yang bisa memberikan hasil nyata dan pelayanan kepada rakyat Irak.

Terkait hal ini, Sabah al-Ukayli, anggota Aliansi Sairun yang dipimpin Moqtada Sadr, juga mengkritik perpanjangan kesepakatan Pemerintah Irak dengan korporasi AS. Padahal, kata al-Ukayli, semua pihak sebelum ini sudah menyambut baik perjanjian Irak-China untuk memajukan negara, membangun infrastruktur, dan menanam investasi.

Kesepakatan Irak dengan korporasi General Electric telah diperpanjang dalam lawatan Mustafa al-Khadimi ke Washington. Al-Ukayli menilai, perpanjangan ini adalah bukti jelas bahwa Tentara dan korporasi AS tidak berniat angkat kaki dari Irak.

Sembari menyatakan bahwa pihak China tidak diizinkan untuk memulai rekonstruksi Irak, al-Ukayli menyebut bahwa perpanjangan kesepakatan dengan korporasi AS “telah memupus harapan implementasi perjanjian dengan China”.

Tahun lalu, sebulan sebelum dimulainya gelombang unjuk rasa Irak, PM Irak saat itu Adel Abdulmahdi melakukan kunjungan lima hari ke China. Ia menandatangani 8 MOU dengan China di bidang finansial, perdagangan, keamanan, komunikasi, dan selainnya.

Para pakar menilai, perputaran arah Irak ke Timur dan menjauhnya negara ini dari AS telah mendorong Washington memberi tekanan hebat atas Baghdad.

Parlemen Irak menyambut positif kesepakatan ini dan menilainya bisa menjadi solusi untuk sejumlah problem di negara tersebut.

Berdasarkan kesepakatan ini, sebuah rekening bersama Baghdad-Beijing akan dibuka di sebuah bank China. Baghdad akan menjual 100 ribu barel minyak per hari ke perusahaan-perusahaan China melalui rekening tersebut. Namun dengan adanya tekanan dari AS, kesepakatan ini belum diimplementasikan hingga sekarang.

Tags: