Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Ketegangan Memuncak, Poros Perlawanan Hizbullah Ultimatum Israel: Nekat Agresi Lebanon, Kami Hancurkan Kalian!

POROS PERLAWANAN – Wakil Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem mengatakan bahwa gerakan poros perlawanan Hizbullah Lebanon sepenuhnya siap berkonfrontasi jika rezim Israel memilih untuk melakukan agresi terhadap Beirut.

Berbicara dalam sebuah wawancara eksklusif dengan stasiun televisi al-Manar, Sheikh Naim mengingatkan dunia bahwa Israel pernah melakukan agresi terhadap Lebanon tapi kemudian mencari perlindungan ke Amerika Serikat melalui KTT Perdamaian.

“Pada 11 April 1996, musuh Israel berusaha menabur benih-benih perpecahan antara Hizbullah dan bangsa Lebanon dengan melakukan pembantaian. Beberapa negara dunia berkonspirasi dengan Zionis setelah KTT Perdamaian di kota pelabuhan Mesir Sharm El-Sheikh untuk mengakhiri gerakan perlawanan,” kata Sheikh Naim.

Dia merujuk pada pertemuan settingan AS disebut “proses perdamaian Timur Tengah”, yang tak lama setelahnya diikuti oleh operasi militer Israel melawan Hizbullah di Lebanon selatan.

Selama agresi militer 16 hari, pasukan Israel menembaki sekelompok warga sipil yang berlindung di sebuah kamp PBB di Kafr Qana, menewaskan lebih dari seratus orang dan mendapat kecaman keras internasional.

Perang berakhir pada 27 April di tahun yang sama melalui perjanjian gencatan senjata yang melarang serangan terhadap warga sipil. Menurut Sheikh Naim, tidak ada satupun tujuan dari rezim Israel yang tercapai dalam perang ini.

“Ketahanan gerakan perlawanan (Hizbullah), rakyat, dan tentara (Lebanon), bagaimanapun, memaksa rezim Israel untuk mengakui kekalahan yang memalukan, menghentikan agresi di Lebanon dan menerima kenyataan bahwa Hizbullah berhak untuk menembakkan roket untuk membalas setiap serangan Zionis terhadap warga sipil Lebanon,” tambah Sheikh Naim.

Mei lalu, Sekretaris Jenderal Hizbullah Sayyid Hasan Nassrallah memperingatkan Israel agar tidak melancarkan perang di Lebanon, dan menekankan bahwa pasukan Israel “akan dihancurkan” apabila melakukan agresi.

“Semua batalion Israel akan dihancurkan dengan disaksikan oleh media mainstream dan seluruh dunia, jika mereka berani memasuki Lebanon. Kami tidak akan berkompromi bahkan pada sejengkal pun tanah Lebanon,” kata Nasrallah saat itu.

Selain Agresi 1996, Israel juga pernah melakukan serangan lain ke Lebanon pada 2006. Dalam perang tersebut, sekitar 1.200 warga Lebanon, sebagian besar dari mereka warga sipil, kehilangan nyawa dalam perang yang berlangsung selama 33 hari tersebut.

Menurut laporan Komisi Winograd yang dibentuk oleh rezim Israel sendiri, para pejuang Hizbullah yang terlibat membela Lebanon dalam perang melawan Israel, berhasil menang dan Tel Aviv terpaksa mundur tanpa mencapai satupun dari tujuannya.

Komisi itu dibentuk oleh mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert untuk melakukan audit perang, setelah mendapat kritik dan protes dari publik atas fakta bahwa militer Israel gagal mencapai tujuannya membebaskan dua tentara yang ditangkap oleh pejuang Hizbullah.

Tags: