Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Ketidakmampuan Manajerial dan Sejumlah Problem Sosial Kultural Membuat Amerika Kelimpungan Hadapi Pandemi Corona

Ketidakmampuan Manajerial dan Sejumlah Problem Sosial Kultural Membuat Amerika Kelimpungan Hadapi Pandemi Corona

POROS PERLAWANAN – Saat ini Amerika adalah salah satu negara yang kerepotan mengatasi pandemi Corona. Selain ketidakbecusan pemerintahan Donald Trump, ada juga problem-problem lain yang dihadapi Paman Sam. Sebagian bersifat kultural dan periodik, sementara lainnya bersifat fundamental, seperti dilansir Mashregh.

Sejumlah problem terkait pandemi Corona di Amerika kembali kepada penduduk negara itu sendiri. Sebagai contoh, warga Amerika (seperti hampir semua penduduk dunia) tiba-tiba terdorong untuk membeli barang-barang yang, mereka pikir, dibutuhkan untuk menghadapi Corona, seperti bahan disinfektan, kertas toilet, masker, dan perangkat medis lainnya.

Mereka memborong barang-barang di atas dalam jumlah besar, lalu menyimpannya di rumah-rumah mereka. Itu pun kalau mereka sukses mendapatkan barang-barang itu.

Meski Pemerintah AS berjanji bahwa ketersediaan barang-barang di atas masih aman dan terjamin, tetap saja rak-rak di kebanyakan toko Amerika menjadi kosong karena diborong warga.

Selain kelangkaan barang-barang medis dan kesehatan, ada masalah lain yang dihadapi toko-toko Amerika, yaitu pencurian. Sejumlah warga AS mencuri barang-barang yang dibutuhkan mereka dari toko, bahkan dari rumah sakit.

Berdasarkan foto-foto yang tersebar di medsos, sebagian toko besar Amerika terpaksa menjaga cairan pembersih mereka dengan gembok bersandi.

Hal yang patut dicamkan adalah, warga Amerika berebut membeli barang-barang medis dan kesehatan tersebut, padahal nyaris tak satu pun dari barang-barang itu dibutuhkan untuk mencegah Corona. Sebagai contoh, warga Amerika memborong gel disinfektan dalam jumlah besar, tapi para pakar mengatakan, mencuci tangan dengan air dan sabun jauh lebih efektif daripada menggunakan bahan disinfektan.

Hubungan Cuti Tanpa Gaji dengan Penyebaran Corona

Meski kelangkaan barang-barang medis dan kesehatan, juga mahalnya harga barang-barang tersebut, merupakan problem besar, namun faktanya, problem itu juga dihadapi banyak negara lain yang terdampak Corona. Namun yang membuat Amerika lebih rentan di hadapan pandemi ini, adalah faktor-faktor yang lebih fundamental. Salah satunya adalah ketidakmampuan pemerintahan Trump dalam memanajemen krisis Corona.

Ketika jutaan warga Amerika di berbagai negara bagian harus dikarantina, dan banyak kota mengumumkan kondisi darurat, Pemerintah Amerika bukan hanya tak bisa menemukan formula tepat untuk menangani Corona, tapi juga gagal untuk mendapatkan ide untuk itu. Di lain pihak, Trump terus berupaya menganggap enteng pandemi ini.

Salah satu faktor lain kegagalan Amerika menangani Corona adalah aturan ketat negara itu dalam memberikan cuti disertai gaji kepada pekerja. Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) memberikan solusi paling sederhana, sekaligus paling efektif, untuk mencegah penyebaran virus, yaitu para pekerja diminta untuk tetap tinggal di rumah.

Namun, di lain pihak, para pekerja tampaknya siap mengambil risiko kehilangan nyawa, tapi tidak siap untuk mengambil cuti. Ini bukan karena orang Amerika gemar bekerja, tapi lantaran jutaan pekerja Amerika tidak memiliki kemampuan finansial untuk bisa cuti tanpa menerima gaji.

Tentu dengan tiadanya kebijakan seragam nasional untuk memberikan cuti plus gaji kepada pekerja, akan menyebabkan warga tetap bekerja, walau mereka terinfeksi Corona. Tindakan ini tentu meningkatkan penyebaran virus di tengah masyarakat.

Bukan itu saja. Perhatikan fakta ini: 79 persen dari pekerja di industri makanan Amerika tidak bisa mengambil cuti plus gaji, dan lebih dari separuh para pekerja ini tidak mau cuti tanpa gaji, walau terpapar Corona.

Dengan fakta di atas, gampang bagi Anda untuk menyambungkan mata rantai penyebaran Corona di Amerika. Cukup Anda bayangkan bahwa sebagian pekerja industri makanan yang terpapar virus ini tetap pergi bekerja, karena mereka tidak akan dibayar jika mengambil cuti. Dengan demikian, virus itu bisa menular ke orang-orang lain melalui makanan yang mereka buat.

Kenapa Data Asli Kasus Corona Bisa Lebih Besar dari Data Resmi?

Data kasus Corona di Amerika sangat mungkin lebih besar daripada data versi Pemerintah. Sebab, mayoritas warga Amerika, dengan faktor-faktor yang disebut di atas (seperti enggan mengambil cuti minus gaji), memilih untuk menyembunyikan penyakit mereka.

Selain itu, dalam beberapa hari terakhir, ada banyak kasus Corona yang penyebabnya belum diketahui. Dengan kata lain, ada orang-orang yang terpapar virus itu, padahal tidak pergi ke negara-negara yang dilanda wabah (seperti China) atau tidak menjalin kontak dengan mereka yang positif terinfeksi Corona.

“Berkat adanya cacat” dalam sistem kesehatan Amerika, yang selalu diperdebatkan dengan panas oleh Demokrat dan Republik, warga negara itu begitu mudah dikalahkan oleh Corona.

Ketika sejumlah negara, seperti China dan Iran, menggratiskan pengujian (bahkan pengobatan) virus Corona, baik yang memiliki asuransi maupun tidak, Amerika masih berdebat dengan seru apakah pengujian Corona digratiskan atau tidak.

Biaya pengujian Corona di Amerika berbeda-beda, dari yang ratusan hingga lebih dari 3 ribu dolar. Namun yang pasti adalah, pemerintahan Trump masih belum mengambil langkah awal penanganan Corona ini.

Perdebatan soal pengujian Corona ini sebenarnya cukup aneh, sebab pada dasarnya, warga Amerika tidak peduli soal ini. Orang-orang ini, yang jumlah mereka sedikitnya puluhan juta, lebih memilih untuk “tidak menyia-nyiakan” uang mereka untuk tes Corona. Sebab, kalau pun tes mereka dinyatakan positif, mereka tidak akan membayar biaya pengobatannya.

Dengan demikian, keputusasaan warga Amerika untuk mendapatkan biaya pengobatan Corona, menyebabkan data sesungguhnya kasus Corona tetap tersembunyi.

Terakhir, dengan adanya upaya pemerintahan Trump untuk membatasi hak pengumuman data kasus Corona, pengungkapan data asli dari penyebaran Corona di Amerika sangat sulit terwujud. Kenapa? Pertanyaan ini bisa dijawab dengan soal yang disebut Washington Post dalam salah satu laporannya: _Mana yang Lebih Dicemaskan Trump, Data Virus Corona atau Data Pengidap Corona?

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *