Korban Epstein Asal Uzbekistan Ungkap Tiga Tahun Eksploitasi dan Trauma Berkepanjangan yang Dialaminya
POROS PERLAWANAN — Seorang perempuan asal Uzbekistan yang menjadi korban Jeffrey Epstein untuk pertama kalinya berbicara secara terbuka di hadapan anggota parlemen Amerika Serikat mengenai tiga tahun eksploitasi dan trauma berkepanjangan yang dialaminya.
Mengutip laporan Farsnews Agency dan BBC pada Sabtu 16 Mei, korban bernama Rosa menyampaikan kesaksiannya dalam forum yang digelar politikus Partai Demokrat di West Palm Beach, Florida, bersama sejumlah korban lain dari jaringan perdagangan manusia Epstein.
Rosa mengaku direkrut saat masih remaja oleh Jean-Luc Brunel, agen model sekaligus rekan Epstein, setelah dijanjikan pekerjaan di industri model.
Menurut keterangannya, Brunel mendekatinya di Uzbekistan pada 2008 ketika dirinya berusia 18 tahun dan berada dalam kondisi ekonomi sulit.
“Saya menjadi target yang mudah karena membutuhkan uang,” kata Rosa dengan mata berkaca-kaca.
Dia mengatakan pertama kali bertemu Epstein pada Juli 2009 di kediamannya di Florida saat pelaku menjalani tahanan rumah.
Dalam pertemuan itu, Epstein menawarkan pekerjaan di sebuah yayasan sains di Florida yang menjadi tempatnya bekerja di luar tahanan setelah kesepakatan hukum kontroversial pada 2008.
Rosa menyebut tindakan eksploitasi pertama terjadi di ruangan Epstein di yayasan tersebut. Dia mengaku kemudian mengalami perlakuan abusif dan eksploitasi berulang selama tiga tahun berikutnya.
Forum itu digelar anggota Demokrat Komite Pengawas DPR Amerika Serikat di dekat kawasan Mar-a-Lago milik Donald Trump. Anggota Kongres, Robert Garcia mengatakan lokasi tersebut dipilih karena wilayah itu menjadi tempat awal terbongkarnya kejahatan Epstein.
Meski tidak memiliki status resmi sebagai sidang hukum, forum tersebut disebut bertujuan menjaga perhatian publik terhadap kasus Epstein dan penanganannya oleh Pemerintah Amerika Serikat.
Komite Pengawas DPR AS yang saat ini dikuasai Partai Republik tengah menyelidiki kembali sejumlah dokumen terkait Epstein, termasuk dokumen yang memuat nama Donald Trump.
Dalam forum tersebut, sejumlah legislator mendengarkan kesaksian mengenai bagaimana Epstein dan jaringan terdekatnya selama bertahun-tahun berhasil menghindari proses hukum, sementara korban berulang kali diabaikan sistem peradilan.
Epstein sebelumnya divonis pada 2008 atas kasus prostitusi yang melibatkan remaja di bawah umur dan terdaftar sebagai pelaku kejahatan seksual.
Laporan terbaru anggota Demokrat Komite Pengawas DPR AS menyebut kesepakatan pengakuan bersalah Epstein pada 2008 memberinya ruang untuk melanjutkan dugaan eksploitasi dan perdagangan anak di bawah umur selama hampir satu dekade berikutnya.
