Loading

Ketik untuk mencari

Arab Saudi Eropa

Lebihi Batas Maksimum, Perusahaan Pertahanan Inggris Akui Kewalahan Layani Pesanan Senjata Saudi untuk Menginvasi Yaman

71870222_74f0f170-272b-4e04-9a31-d3484e5d6885.jpg

POROS PERLAWANAN – Surat kabar The Guardian menerbitkan laporan tentang angka penjualan perusahan BAE System, sebuah perusahaan pertahanan, keamanan dan kedirgantaraan terbesar Inggris.

Laporan itu berjudul, “BAE Systems sold £15bn worth of arms to Saudis during Yemen assault”, BAE Systems menjual senjata senilai £ 15 miliar pound selama agresi Yaman.

Laporan ini diperkuat oleh rilis BBC dalam bahasa Arab, bahwa transaksi penjualan terjadi selama rentang lima tahun, periode ketika Rezim Saudi terlibat operasi militer mematikan di Yaman.

Laporan tersebut menambahkan, bahwa para aktivis menganalisis laporan tahunan Pemerintah UK tentang nilai penjualan perusahaan terkemuka di Inggris dalam bidang senjata dan pertahanan. Hasil analisis itu menunjukkan, bahwa perusahaan berhasil mengumpulkan pendapatan di atas 2,5 miliar pound dalam transaksi penjualan senjata ke Arab Saudi, pada tahun lalu saja.

Adapun total ekspor senjata Inggris ke Saudi dari tahun 2015 sampai 2019 adalah sekitar 15 miliar pound, dengan peningkatan pertahun sebesar 17,3%.

Lebih lanjut laporan itu menyatakan, “ribuan warga sipil telah terbunuh sejak awal agresi Yaman pada Maret 2015. Koalisi Rezim Saudi melegalkan pengeboman tanpa pandang bulu, setelah memeroleh senjata dari BAE Systems dan perusahaan-perusahaan Barat lainnya”.

Angkatan Udara Saudi menghadapi tuduhan telah membunuh, atau lebih tepatnya genosida terhadap 12.000 warga Yaman dalam serangan mereka.

Laporan itu juga mengatakan, Rezim Saudi telah melakukan gencatan senjata sepihak, setelah epidemi Corona, mempertimbangkan dampak yang mungkin ditimbulkan di Yaman. (Walau kemudian diketahui, itu hanya akal-akalan Saudi untuk menutupi ketidakmampuan menghadapi militansi kelompok poros perlawanan Yaman dan menyelamatkan muka koalisi militer mereka setelah menderita kekalahan demi kekalahan tak terhindarkan -red).

Masih menurut laporan itu, ekspor senjata ke Saudi sudah melebihi batas maksimum sesuai dengan lisensi ekspor yang sah.

Philip Hammond yang menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Inggris waktu itu mengumumkan dukungan negaranya terhadap kampanye Rezim Saudi untuk “membersihkan” militan Yaman dalam segala bentuk yang dimungkinkan, selain keterlibatan langsung dalam bentrokan militer. Demikian menurut laporan itu.

Laporan itu juga menunjukkan bahwa ekspor militer Inggris ditangguhkan pada Juni 2019, setelah keputusan Pengadilan Banding di negara itu. Namun pemerintahnya tidak melakukan penilaian resmi, apakah Arab Saudi telah melakukan pelanggaran terhadap hukum Hak Asasi Internasional.

“Arab Saudi adalah negara pembeli senjata dan perlengkapan militer terbesar ketiga, setelah Kementerian Pertahanan Amerika dan Inggris. Hampir sepertiga pembelian industri pertahanan itu berupa Tornado, aksesoris, sistem dan program senjata”, ungkap laporan itu, seperti dilansir Wattan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *