Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat Eropa

Macron Bela Kartun Charlie Hebdo, Syekh al-Azhar: Hina Nabi Muhammad Bukan Kebebasan Pendapat tapi Seruan Kebencian

Macron Bela Kartun Charlie Hebdo, Syekh al-Azhar: Hina Nabi Muhammad Bukan Kebebasan Pendapat tapi Seruan Kebencian

POROS PERLAWANAN – Syekh Agung al-Azhar Mesir, Ahmad Tayyib, menanggapi keras pernyataan Presiden Prancis, Emmanuel Macron yang membela penghinaan majalah Charlie Hebdo kepada Nabi Muhammad Saw.

“Penghinaan kepada Nabi Muhammad Saw bukan kebebasan pendapat, tapi seruan terbuka kepada kebencian dan kekerasan”, cuit Syekh Tayyib, seperti dilansir al-Alam.

“Penghinaan kepada Nabi Islam adalah pengabaian dan perendahan nilai-nilai kemanusiaan yang beradab,” imbuhnya.

“Pembenaran tindakan ini dengan dalih kebebasan pendapat, disebabkan pemahaman keliru terhadap perbedaan antara hak manusia untuk mengutarakan pandangan dan kejahatan terhadap manusia lain atas nama dukungan untuk kebebasan.”

Jubir Kemenlu Iran, Saeed Khatibzadeh pun mengutuk keputusan Charlie Hebdo yang memuat kembali karikatur Nabi Muhammad saw.

“Segala bentuk penghinaan terhadap Nabi Islam dan para nabi lain sama sekali tidak bisa diterima, dengan dalih apa pun,” tegasnya.

“Tindakan majalah Prancis, yang kembali dilakukan dengan dalih kebebasan pendapat, telah melukai perasaan kaum moneteis dunia. Ini adalah perbuatan provokatif dan penghinaan terhadap norma Islam serta keyakinan lebih dari satu miliar Muslim di dunia,” lanjut Khatibzadeh.

“Berlawanan dengan yang dilakukan majalah ini, kebebasan pendapat adalah norma mulia yang mesti digunakan secara konstruktif, dalam rangka solidaritas antarmanusia dan kesepahaman antaragama,” tandasnya.

Prancis menganggap tindakan menghina ini sebagai bagian dari “kebebasan berpendapat.” Sebab itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron tidak mengecam perbuatan majalah tersebut.

Seraya menolak untuk mengecam Charlie Hebdo, Macron mengatakan, ”Saya tidak berada dalam posisi untuk bisa mengeluarkan vonis terhadap keputusan majalah untuk memublikasi ulang karikaturnya.”

Macron menghubungkan penghinaan terhadap Umat Islam ini dengan “masalah kebebasan berpendapat dan berkeyakinan.”

Ia menambahkan, ”Negara saya menjunjung kebebasan pendapat dan keyakinan. Namun di saat yang sama, warga Prancis mesti saling menghormati satu sama lain, serta menghindari dialog yang menyulut kebencian.”

Direktur Charlie Hebdo menyatakan, karikatur ini akan dimuat di halaman pertama berbarengan dengan pengadilan terdakwa penyerangan ke kantor majalah tersebut, dan ini adalah hal yang tak terhindarkan.

Karikatur yang juga pernah dimuat lima tahun lalu ini memicu kemarahan Umat Muslim Prancis dan negara-negara dunia lainnya.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *