Loading

Ketik untuk mencari

Arab Saudi

Masih Hobi Hukum Mati dan Penggal Kepala Penentang Raja, Organisasi HAM Pastikan Slogan ‘Reformasi dan Modernisasi’ Saudi Hanya Retorika

POROS PERLAWANAN – Pekan lalu, Arab Saudi melakukan eksekusi mati ke-800, yang menandai peningkatan hampir dua kali lipat sejak Raja Salman mengambil alih kekuasaan setelah kematian saudara tirinya, Raja Abdullah pada 2015 lalu.

Reprieve, sebuah organisasi nirlaba yang fokus mengawal isu HAM asal Inggris, menyampaikan dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada Selasa, 14 April, bahwa rezim Riyadh pekan lalu memenggal kepala seorang warga Saudi bernama Abdulmohsin Humood Abdullah al-Ghamdi atas tuduhan pembunuhan.

Laporan tersebut mengatakan bahwa dalam lima tahun terakhir, jumlah eksekusi mati di Saudi meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan dengan 423 eksekusi yang dilakukan di Arab Saudi dari 2009 hingga 2014.

Reprieve menambahkan bahwa rezim Saudi telah mengeksekusi 186 orang pada 2019 saja, 37 di antaranya “dijagal” dalam sebuah eksekusi massal yang dilaksanakan pada 23 April tahun lalu. Enam orang di antara korban eksekusi massal tersebut masih berusia remaja.

Di antara mereka yang telah dieksekusi pada 2019, setidaknya 58 orang adalah warga negara asing yang dihukum mati karena menyebarkan paham Islam Syiah, yang menurut rezim Saudi adalah sebuah kejahatan. Beberapa lainnya dieksekusi karena diduga berpartisipasi atau menginisiasi demonstrasi politik.

Reprieve juga mengkritik Putra Mahkota Mohammad bin Salman, yang dianggap sebagai penguasa de facto Kerajaan, karena tidak menepati janji untuk membatasi jumlah eksekusi sebagai bagian dari apa yang awalnya ia klaim akan menjadi “reformasi” di kerajaan yang sangat konservatif.

“Kenyataannya jauh dari pernyataan itu”, tertulis dalam laporan tersebut.

Direktur Reprieve, Maya Foa, juga turut berkomentar mengenai “hobi” Saudi mengeksekusi orang, menurutnya, apa yang digembar-gemborkan Mohammad Bin Salman tentang reformasi dan modernisasi Saudi hanyalah retorika belaka.

“Dari semua retorika reformasi dan modernisasi, Arab Saudi masih merupakan negara, yang berbicara menentang raja dapat membuat Anda terbunuh,” kata Maya seperti dilansir Press TV.

Pada Januari 2016, otoritas Saudi mengeksekusi ulama Syiah Sheikh Nimr Baqir al-Nimr, yang merupakan pengkritik keras rezim Riyadh, bersama dengan 46 orang lainnya atas tuduhan “terorisme”.

Arab Saudi kerap melakukan penangkapan dan hukuman bermotif politik, dan berdasarkan keyakinan saja, terutama pada para penulis yang tidak sepaham dengan rezim, khususnya di Provinsi Timur yang didominasi penduduk Syiah.

Selama beberapa tahun terakhir, Riyadh juga telah melakukan redefinisi undang-undang anti-terorisme yang sering dijadikan alasan untuk membredel aktivisme di sana.

Tags:

1 Komentar

  1. Abu ayyub aljawany April 18, 2020

    Mf mas kuncoro..tulisan anda ini fakta apa opini..sy kira telalu berlebihan stigma tulisan anda..mf..sy kira MBS tdk seperti..ada sisi kebaikan yg lupa anda beberkan..jd kita hrs fair..matur nuwon..

    Balas

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *