Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Normalisasi Hubungan Abu Dhabi-Tel Aviv Ibarat Persekutuan antara Sadisme Israel dan Masochisme UEA

Normalisasi Hubungan Abu Dhabi-Tel Aviv Ibarat Persekutuan antara Sadisme Israel dan Masochisme UEA

POROS PERLAWANAN – Sebagian orang berpikir, normalisasi hubungan Abu Dhabi-Tel Aviv menunjukkan bahwa Rezim Zionis tengah mengemis hubungan dengan negara-negara Arab. Tujuannya adalah untuk melegalkan “keberadaannya” di Kawasan, karena Israel seperti orang yang merampas sebuah rumah dan mengusir penghuninya.

Namun sebenarnya, kerabat penghuni rumah itu justru yang mengemis iba dan kasih dari si perampas rumah, yang gemar menyakiti dan mengganggu mereka.

Dilansir al-Alam, sebelum topik normalisasi dengan Tel Aviv mengemuka, orang-orang UEA sudah kerap menjamu para pejabat, jurnalis, pebisnis, dan turis Israel. Namun anehnya, dalam beberapa hari terakhir kita menyaksikan UEA di-bully oleh para jurnalis Zionis, padahal kesepakatan normalisasi masih belum ditandatangani.

Menurut tata krama, semestinya para tamu dari Israel menghormati tuan rumah. Setidaknya, para tamu ini jangan memicu amarah opini publik atau pejabat UEA sebelum ditandatanganinya kesepakatan. Namun, para tamu ini bukan hanya tidak menghormati hukum di UEA, tapi juga menyatakan bahwa negara monarki ini lemah dan tak berdaya, serta menunjukkan para pejabatnya sebagai orang-orang bodoh.

Salah satu contoh penghinaan ini adalah foto Wakil Harian Yedioth Ahronoth, Yaniv Halili di samping kamar nomor 230 Hotel al-Bustan Rotana, tempat gugurnya petinggi Hamas, Mahmoud al-Mabhouh. Di bawah foto itu Halili menulis “di Hotel al-Mabhouh”.

Tak cukup sampai di situ, Halili memenuhi dua halaman hariannya dengan artikel tentang cara agen Israel mengelabui aparat keamanan UEA untuk menyusup ke hotel dan meneror al-Mabhouh.

Awalnya, UEA mengklaim bahwa motif normalisasi adalah mendapat jaminan dari Israel agar Tepi Barat tidak dicaplok. Namun propaganda ini dibantah oleh Tel Aviv.

Saat klaim ini dibantah, UEA lalu mengaku bahwa tujuan normalisasi adalah agar Abu Dhabi bisa membeli F-35, yang klaim ini pun ditepis AS dan Israel.

Di hadapan sadisme Israel ini, kita tidak hanya melihat masochisme (kepuasan karena disakiti) orang-orang UEA, tapi juga keengganan mereka untuk memprotes penghinaan Israel.

Alih-alih memprotes, media-media UEA justru bicara soal “kebahagiaan, masa depan cerah, kesejahteraan, dan kemajuan”, yang mereka pikir akan diraih pasca normalisasi dengan Israel.

Lebih memuakkan lagi adalah pernyataan mantan Kepala Polisi Abu Dhabi, Dhahi Khalfan, tentang teror al-Mabhouh kepada Kanal 2 Israel. Dia mengatakan, andai dirinya tahu bahwa kelompok-kelompok jihad berencana melancarkan operasi atas Israel, “dia secara pribadi akan memberitahukannya kepada Tel Aviv untuk menggagalkan rencana tesebut!”

Tags: