Loading

Ketik untuk mencari

Arab Saudi

Penggusuran Paksa Disusul Pembunuhan Warga Penentang Proyek Ambisius Megapolitan NEOM yang Digagas Muhammad bin Salman, Rawan Picu Krisis Keamanan Saudi

Penggusuran Paksa Disusul Pembunuhan Warga Penentang Proyek Ambisius Megapolitan NEOM yang Digagas Muhammad bin Salman, Rawan Picu Krisis Keamanan Saudi

POROS PERLAWANAN – Harian Wall Street Journal dalam laporannya menulis, perlawanan keras ditunjukkan suku-suku di kawasan barat laut Saudi terhadap proyek NEOM (Neo-Mustaqbal alias ‘Masa Depan yang Baru’).

Dilansir Fars, pasca terbunuhnya salah seorang penentang pembangunan kota NEOM di Saudi, proyek ambisius ini kembali menarik perhatian publik.

Proyek NEOM, yang digagas oleh Muhammad bin Salman pada 2017 lalu, adalah rencana pembangunan sebuah adikota di tepi Laut Merah. Namun, implementasi proyek ini mengharuskan penggusuran penduduk di kawasan tersebut.

Menurut Wall Street Journal, para suku di barat laut Saudi itu menegaskan, mereka tak akan meninggalkan rumah-rumah mereka untuk pembangunan adikota tersebut.

Adikota tersebut diprediksi akan memiliki luas seukuran Belgia. Masalahnya, ada lebih dari 20 ribu orang yang tinggal di kawasan yang dipilih Putra Mahkota Saudi untuk proyek ambisiusnya tersebut. Sebagian besar dari mereka berasal dari suku al-Huwaithat.

Wall Street Journal mengutip ucapan para aktivis Saudi, bahwa aparat kepolisian Saudi menangkap siapa pun yang tidak bersedia meninggalkan tanah warisan nenek moyangnya.

Jika para penduduk bersedia meninggalkan kawasan itu, mereka ditawari rumah-rumah baru oleh Pemerintah Saudi. Mereka juga dijanjikan akan menerima ganti rugi.

Meski demikian, para penduduk mengaku tidak tahu bagaimana cara mereka mendapatkan ganti rugi. Kepada Wall Street Journal, petinggi Kedubes Saudi di Washington mengklaim bahwa Riyadh tak akan mengingkari janji ganti rugi itu.

Pekan lalu, aparat keamanan Saudi menembak Abdurahim Ahmad al-Huwaithi hingga tewas. Al-Huwaithi melalui video yang sempat ia rekam dan publikasikan sebelum tewas, bersumpah bahwa ia tak akan mengosongkan rumahnya. Dalam videonya, al-Huwaithi melayangkan kritik pedas kepada Riyadh.

“Saya tidak heran jika mereka akan menyerbu dan membunuh saya,” kata al-Huwaithi dalam videonya. Setelah ia tewas, aparat keamanan Saudi menuduhnya telah menembak petugas dan ada banyak senjata ditemukan di rumahnya.

Kabarnya banyak orang dari suku al-Huwaithat yang memiliki senjata. Melalui medsos, mereka menyatakan akan melakukan pemberontakan dan menghalangi proyek NEOM, jika mereka masih dipaksa angkat kaki dari kawasan tersebut.

Banyak warga suku al-Huwaithat yang merespons keras penghormatan pemuka suku kepada Bin Salman dan persetujuannya dengan proyek NEOM.

Mereka menegaskan, statemen pemuka suku tidak merepresentasikan sikap mereka.

Menurut Wall Street Journal, ada kekhawatiran akan potensi timbulnya konflik antara Pemerintah dan suku al-Huwaithat, yang merupakan salah satu suku terbesar di kawasan tersebut.

Di sisi lain, rencananya adikota NEOM akan berada di luar sistem hukum Saudi. Artinya, norma dan aturan masyarakat Saudi tak akan dijalankan di sana. Hal ini juga memicu penentangan dari sejumlah warga Saudi yang lain.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *