Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Pilih Masuk Kubu Zionis, Masih Layakkah Saudi Sandang Status ‘Khadim al-Haramain’?

Pilih Masuk Kubu Zionis, Masih Layakkah Saudi Sandang Status 'Khadim al-Haramain'?

POROS PERLAWANAN – Ketika seorang menteri dan semua media Israel, resmi dan nonresmi, mengonfirmasi lawatan PM Israel dan Direktur Mossad ke Neom serta pertemuan mereka dengan Muhammad bin Salman dan Mike Pompeo, bantahan lemah Saudi jelas tidak bisa meyakinkan Umat Islam yang marah.

Dilansir al-Alam, respons lembek Saudi atas bocornya pertemuan tersebut, itu pun hanya melalui tweet Menlu Saudi Faisal bin Farhan, tentu saja tidak bisa membendung luapan amarah dua miliar Muslim di dunia.

Ketika kebenaran berita ini telah dikonfirmasi, Umat Muslim dunia mesti menuntut agar status Dinasti Saud sebagai “Pelayan Dua Tempat Suci di Makkah dan Madinah”, juga pengurus ibadah haji dan umrah, dicabut. Sebab, tak satu pun Muslim yang bisa menerima bahwa pihak yang mengklaim sebagai “Khadim al-Haramain”, mengulurkan tangan persahabatan kepada orang-orang yang telah merusak kehormatan Masjid Aqsa, membunuhi rakyat Palestina, dan merongrong Islam di dunia.

Jika klaim media-media Israel tentang pertemuan ini benar, maka langkah Muhammad bin Salman dalam menempatkan Saudi di jalur normalisasi dengan Rezim Zionis akan menyebabkan negara monarki ini kehilangan sisa martabatnya di Dunia Islam.

Dengan tindakan ini, Putra Mahkota Saudi secara terang-terangan memosisikan dirinya di barisan orang-orang yang berusaha menghancurkan kiblat pertama Muslimin dan membangun kuil imajinatif mereka di atas puing-puing Masjid Aqsa.

Adakah Muslim yang mau menerima hal seperti ini? Bisakah Dinasti Saud meyakinkan Umat Islam bahwa musuh mereka bukan Israel, tapi Poros Perlawanan yang berjuang membebaskan Palestina dan membinasakan Rezim Zionis?

Proses terburu-buru normalisasi Saudi, yang dimulai dengan membuka zona udara untuk pesawat-pesawat Israel hingga sambutan positif terhadap normalisasi UEA dan Bahrain, membuat kita berhadapan dengan sebuah situasi baru; situasi yang menyingkap kedok dari wajah asli Klan Saud, yang selama bertahun-tahun disembunyikan.

Peran tersembunyi Saudi dalam normalisasi dengan Israel kembali pada tahun-tahun silam. Bukan tanpa alasan jika pada tahun 2014, Direktur Badan Intelijen Saudi saat itu, Turki Faisal, berangan-angan bisa menjamu orang-orang Israel di rumahnya.

Pada tahun 1981, Putra Mahkota Saudi saat itu, Fahd bin Abdulaziz mengajukan rencana normalisasi, yang salah satu butirnya adalah mengakui Israel secara resmi. Dia berusaha memaksakan proposal ini kepada Dunia Islam dalam Konferensi Negara-negara Teluk. Namun Konferensi itu mengeluarkan proposal itu dari agenda sidang.

Pada tahun 2002, Saudi mengajukan proposal lain, dan secara resmi “melakukan bunuh diri” dengan proposal tersebut. Hingga pada tahun 2018 lalu, Saudi menyingkirkan proposal itu dengan menyatakan dukungan terhadap Kesepakatan Abad Ini yang digagas Trump. Bin Salman menilai Kesepakatan Abad Ini sebagai fondasi untuk pemerintahannya. Dia meyakini bahwa Tel Aviv adalah satu-satunya jalan untuk menembus Gedung Putih dan menarik simpati Trump.

Kendati media-media Kerajaan Saudi selama bertahun-tahun berusaha memaksakan kompromi dengan Israel atas bangsa-bangsa Arab, Dinasti Saud mesti tahu bahwa akidah dan hal-hal sakral tidak akan lenyap. Peristiwa-peristiwa saat ini akan cepat berlalu dan tidak akan menguntungkan tren normalisasi.

Seperti bangsa-bangsa Muslim lain di Mesir, Yordania, UEA, dan Bahrain, rakyat Saudi pun menentang normalisasi dan mustahil bersedia untuk berkompromi dengan Rezim Zionis.

Tags: