Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Profesor Harvard: Serampangan Tangani Pandemi Corona, Trump Rusak Reputasi AS di Mata Dunia

POROS PERLAWANAN – Ketidakmampuan dan ketidakjujuran Trump dalam mengelola pandemi Covid-19 telah membuat pengamat asing bahkan warga Amerika kehilangan kepercayaan dan mungkin secara permanen menodai reputasi AS di mata dunia, The Guardian melaporkan.

“Perilaku yang tidak menentu, yang ditoleransi di masa lalu, sekarang menjadi sangat berbahaya. Sudah lama, setidaknya bagi banyak orang di Eropa, bahwa Trump tidak dapat dipercaya. Sekarang dia dipandang sebagai ancaman. Ini bukan hanya tentang kepemimpinan yang gagal. Ini tentang perseteruan terbuka, tindakan sembrono”, kata surat kabar itu.

Tindakan bersama internasional juga telah terhambat di Dewan Keamanan PBB karena AS terus mempermasalahkan soal terminologi. Trump telah mengabaikan seruan untuk membentuk gugus tugas global penanganan pandemi Covid-19.

Bulan lalu, negara-negara Kelompok Tujuh (G7) gagal menyepakati pernyataan bersama tentang penanggulangan pandemi Covid-19 karena Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo bersikeras menyebutnya dengan “virus Wuhan” yang menyakiti hati warga China.

“Respons pemerintah Trump yang berorientasi pada diri sendiri, serampangan, dan tuli-nada [terhadap Covid-19] pada akhirnya akan menelan biaya triliunan dolar Amerika dan ribuan kematian yang (seharusnya) dapat dicegah,” tulis Stephen Walt, seorang Profesor Hubungan Internasional di Universitas Harvard.

Menurut Walt, kegagalan Trump dalam mengatasi krisis ini tidak hanya membuat Amerika menderita dengan ribuan kematian, tapi juga akan menodai reputasi Amerika Serikat dan membuat AS dipandang buruk oleh dunia. Hal ini sangat jauh dari slogan “Buat Amerika Hebat Lagi (Make America Great Again)” seperti yang selalu digembar-gemborkan Trump saat kampanye.

Amerika Serikat, negara dengan populasi terbesar ketiga di dunia ini telah mencatat jumlah infeksi dan kematian akibat virus Corona terbanyak di dunia, dengan lebih dari 22.000 orang meninggal dan lebih dari 555.000 terinfeksi, menurut penghitungan Reuters pada Senin, 13 April.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *