Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Satu Lagi Aksi Bodoh Media Saudi, Poles Hoaks ‘Serangan Iran ke Gedung Kongres AS’ Seolah Fakta

Satu Lagi Aksi Bodoh Media Saudi, Poles Hoaks 'Serangan Iran ke Gedung Kongres AS’ Seolah Fakta

POROS PERLAWANAN – Apa yang kita dengar di hari-hari terakhir kekuasaan Donald Trump adalah murni sebuah ilusi dan imajinasi.

Trump beserta para “yatimnya”, yaitu Benyamin Netanyahu dan Muhammad bin Salman sama-sama mengidap narsisme. Persamaan lain mereka adalah kebencian memuncak terhadap Republik Islam Iran.

Di hari-hari terakhir kepresidenan Trump, kita “menantikan” klaim-klaim aneh dari Trump, Bin Salman, dan Netanyahu. Namun jika kita ingin objektif dalam mendeskripsikan tiga orang ini, Bin Salman tidak bisa disamakan dengan “ayahnya”, Trump, dan “kakaknya”, Netanyahu. Sebab, kedunguan Bin Salman melampaui keduanya hingga menjatuhkan negaranya ke level terendah.

Sumber kebodohan Bin Salman ada dua, yaitu ayah biologisnya, Raja Salman, dan ayah spiritualnya, Trump, sebab mereka berdua yang telah melibatkan pangeran ambisius ini di dunia politik.

Bin Salman menunjukkan kedunguannya melalui gaya memerintah kekanak-kanakannya, persekusi atas penentangnya, pemaksaan pejabat negara lain untuk mundur, kesediaan untuk menormalisasi hubungan dengan Rezim Zionis, serta “penjualan” Mekkah dan Madinah demi melanggengkan kekuasaannya.

Untuk menjelaskan kebodohan Bin Salman, yang telah membuat negaranya jadi bahan tertawaan, kita akan menunjuk klaim terbarunya soal Iran.

Kemarin stasiun televisi CBS mengklaim bahwa pengendali lalu lintas udara New York menerima pesan audio yang berbunyi “kami pada hari Rabu akan mengirim sebuah pesawat ke dalam bangunan Kongres. Dendam Soleimani akan dibalaskan”.

Di saat FBI mengonfirmasi bahwa pesan itu adalah hoaks, dan Fox News juga mengutip dari sumber keamanan nasional AS bahwa ancaman terhadap Kongres adalah bualan belaka, media-media Saudi seperti al-Arabiya dan al-Hadath memberitakannya seolah itu adalah sebuah fakta.

Sama seperti atasan mereka, Bin Salman, media-media ini mengaitkan kabar itu dengan statemen Komandan Pasukan Quds IRGC, Esmail Qaani, yang telah memperingatkan kepada AS bahwa “barangkali ada orang-orang di dalam rumah kalian yang akan membalaskan darah Syahid Soleimani”.

Kedunguan media-media Bin Salman ini, yang didasari kebencian terhadap Iran, menunjukkan keamatiran mereka.

Semua orang di dunia, kecuali Bin Salman, medianya, dan pasukan sibernya, tahu bahwa pembalasan darah Syahid Soleimani adalah niscaya, namun hanya akan dilakukan di tempat dan waktu yang dikehendaki Iran.

Pihak yang paling diuntungkan oleh isu serangan ke Kongres adalah kelompok-kelompok radikal sayap kanan pro-Trump, yang Rabu kemarin mengadakan unjuk rasa di depan Kongres untuk memprotes hasil Pilpres.

Kelompok-kelompok pendukung Israel dan lobi dukungan Saudi menganggap bahwa lengsernya Trump adalah pukulan terbesar bagi proyek anti-Iran mereka.

Fakta bahwa para pejabat Washington meminta Militer AS untuk menjaga keamanan di Ibu Kota dan sekitar Kongres sudah cukup menjelaskan siapakah yang berada di balik penyebaran pesan audio di atas.

Tags: