Loading

Ketik untuk mencari

Lebanon

Sayyid Hasan Nasrullah: Hidupkan Pertanian dan Industri, Dua Sektor Utama Stabilitas dan Perlawanan Lebanon

Sayyid Hasan Nasrullah: Hidupkan Pertanian dan Industri, Dua Sektor Utama Stabilitas dan Perlawanan Lebanon.

POROS PERLAWANAN – Dilansir Fars, Sayyid Hasan Nasrullah menyampaikan pidato pada Selasa 7 Juli malam dalam rangka peringatan Perang 33 Hari dan kekalahan Israel dalam perang ini.

Perang 33 Hari (atau juga disebut Perang Tamuz) dimulai pada 12 Juli 2006 dengan serbuan Israel ke selatan Lebanon, menyusul ditawannya serdadu Rezim Zionis oleh Hizbullah.

Sayyid Nasrullah dalam pidatonya mengatakan, sebelum ini ia berbicara soal perhatian Lebanon ke arah Timur. Namun, ini tidak berarti bahwa Lebanon harus memutus hubungan sama sekali dengan Barat. Beliau mengatakan, di saat darurat dan mendesak, Lebanon bisa saja menjalin hubungan dengan negara-negara Barat, kecuali Rezim Zionis.

“Sebagian pihak berusaha menggiring topik perhatian ke Barat ke tempat lain. Beberapa orang mengatakan, Barat ibarat oksigen bagi kita. Kami tidak meminta kalian untuk melepaskan oksigen ini. Tapi jika Barat memutus oksigen ini dari kita, apa yang mesti kita lakukan?” kata Sayyid Nasrullah.

“Sebagian orang berpikir, perhatian ke Timur dan hubungan dengan Iran berarti bahwa kami ingin menjadikan Lebanon seperti Iran. Kami tidak pernah mengatakan hal seperti ini. Kami hanya meminta bantuan Iran. Ketika Iran menjual produk minyak dan bensin kepada Lebanon, itu pun dengan mata uang Lira Lebanon, itu berarti bahwa Iran telah melakukan pengorbanan besar.”

Beliau lalu memuji keteguhan Iran dalam melawan sanksi-sanksi kejam AS selama beberapa dekade. Sekjen Hizbullah membandingkan Iran dan Lebanon, seraya menegaskan bahwa Lebanon tidak memiliki elemen-elemen ala Iran, yang bisa membuatnya tetap tegak melawan embargo AS.

“Iran bisa dikatakan sudah berswasembada dalam bahan pangan. Industri Iran juga berkembang pesat dan sanggup mengirim satelit. Iran juga sudah meraih swasembada dalam produksi bensin, solar, dan listrik, serta mengekspor obat-obatan. Namun Lebanon tidak punya elemen-elemen dan potensi ala Iran ini. JIka Iran ingin membantu (ekonomi) Lebanon, tawaran ini harus dikaji secara terhormat. Jangan sampai ada orang yang mencemaskannya,” papar Sayyid Nasrullah.

“Iran sudah melawan embargo selama 40 tahun. Namun di Lebanon, ketika ada sedikit ancaman dan sanksi, kita melihat sejumlah pihak yang tergesa-gesa ingin menyerah di hadapan AS.”

Sayyid Nasrullah mengatakan, hubungan dagang dengan negara-negara Timur seperti Iran, China, dan Irak memiliki sisi positif, yaitu pesan kepada AS dan konco-konconya bahwa Lebanon masih punya berbagai opsi.

Sekjen Hizbullah menegaskan, Lebanon harus berubah dari negara konsumen menjadi negara produsen. Menurutnya, Lebanon harus menghidupkan sektor pertanian dan industri, karena dua sektor ini adalah syarat utama stabilitas dan perlawanan Lebanon.

“Selama rakyat Lebanon belum berubah menjadi produsen dan tidak memanfaatkan hasil jerih payahnya, mereka tidak bisa menjadi bangsa yang berdaulat,” tandas Sayyid Nasrullah.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *