Loading

Ketik untuk mencari

Amerika Oseania & Asia

Tanggapi Larangan Trump, TikTok: Kamilah yang Hibur Warga AS saat Pandemi

Tanggapi Larangan Trump, TikTok: Kamilah yang Hibur Warga AS saat Pandemi

POROS PERLAWANAN – Korporasi China pemilik aplikasi TikTok menanggapi pernyataan kontroversial Donald Trump yang melarang aplikasi itu di AS.

Dikutip al-Alam dari Reuters, Jubir TikTok dalam statemennya menyatakan, aplikasi ini memberikan layanan “hiburan dan komunikasi” kepada jutaan warga AS di tengah pandemi Corona. TikTok juga membantah tudingan bahwa pemiliknya menyerahkan informasi pengguna kepada Beijing.

“Data-data para pengguna TikTok asal AS disimpan di dalam AS sendiri. Para pegawai dikontrol secara ketat agar tidak mengakses data-data tersebut. Para investor terbesar TikTok juga berasal dari AS,” kata Jubir TikTok.

“Kami berkomitmen untuk menjaga keamanan dan privasi para pengguna. Kami akan melanjutkan pekerjaan kami dalam memberikan kegembiraan kepada para keluarga, serta menawarkan peluang kerja kepada mereka yang memiliki inovasi dalam platform kami,” imbuhnya.

TikTok juga memublikasikan video Manajer Umum Sektor AS, Vanessa Pappas, yang membela aplikasi ini. Pappas dalam videonya menjelaskan lapangan kerja yang diciptakan TikTok di AS, serta pengaturan keamanannya di negara itu.

“Kami tidak ingin pergi ke tempat lain. Kami akan berada di sini untuk waktu yang lama,” kata Pappas.

Pada hari Jumat 31 Juli lalu, Trump mengancam akan menggunakan wewenangnya dalam situasi darurat. Dia mengaku akan mengeluarkan perintah eksekutif untuk melarang aktivitas TikTok di AS.

“Terkait dengan masalah TikTok, kami akan melarang TikTok beraktivitas di AS,” kata Trump kepada para wartawan di pesawat kepresidenannya.

Reuters melaporkan, setelah Trump bicara dengan CEO Microsoft, akhirnya ia memberi tenggat waktu 45 hari kepada pemilik TikTok, ByteDance, untuk merampungkan penjualan aplikasi ini ke Microsoft.

Sumber Reuters menyatakan, Trump mengubah keputusannya lantaran masukan dari penasihat dan sejumlah orang di Partai Republik. Mereka mengatakan, dilarangnya TikTok menjelang Pilpres akan menjatuhkan popularitas Trump di kalangan muda-mudi AS.

Tags: