Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Virus Berbahaya Mana yang Bakal Lenyap Lebih Dahulu, Corona atau Trump?

Virus Berbahaya Mana yang Bakal Lenyap Lebih Dahulu, Corona atau Trump?

POROS PERLAWANAN – Setelah berlalunya keberadaan Donald Trump di Gedung Putih lebih dari 3,5 tahun, dia telah menjauhkan AS bahkan dari para sekutu terdekatnya. Dalam banyak isu internasional, bahkan isu-isu yang berkaitan dengan Barat, NATO, dan negara-negara industri, pandangan AS kerap diabaikan dan tidak dihiraukan.

Dilansir al-Alam, posisi AS di masa kepresidenan Trump benar-benar menukik tajam. Tamparan terakhir dilayangkan oleh Berlin melalui Menlu Jerman, Heiko Maas. Maas menolak tegas usulan Trump untuk mengembalikan Rusia ke G-7 lantaran konflik di Pulau Krimea.

Maas juga menentang permintaan Trump untuk mengizinkan Australia, Korsel, dan India menghadiri pertemuan G-7 yang akan berlangsung di AS. Sikap-sikap ini akan memperumit hubungan tegang antara AS dan Eropa, juga antara AS dan Jerman.

Sebelum ini, Kanselir Agung Jerman, Angela Merkel, telah menolak undangan Trump untuk mengikuti rapat G-7 di Washington. Merkel menjadikan pandemi Corona dan perang dagang AS dengan Eropa, dan Jerman, sebagai dalih untuk menolak undangan tersebut.

Penolakan Merkel untuk menghadiri rapat G-7 mendorong Trump untuk menarik ribuan Serdadu AS dari pangkalan-pangkalan militer di Jerman, tanpa berkoordinasi dengan Pemerintah Berlin. Padahal di saat yang sama, Trump masih berusaha menekan Eropa untuk membayar “biaya perlindungan AS terhadap Eropa dari ancaman Rusia”.

Meski demikian, Trump masih saja melakukan hal-hal yang membuat AS terkucil. Dia telah menarik AS keluar dari banyak perjanjian dan organisasi internasional. Tindakan ini bukan hanya tak didukung oleh sekutu lama AS, bahkan justru dihujat dan dikecam oleh mereka. Di lain sisi, para sekutu AS itu tetap mempertahankan kesepakatan-kesepakatan internasional tersebut.

Hal yang paling mengucilkan AS di pentas internasional adalah keluarnya negara ini dari kesepakatan nuklir Iran (JCPOA). Dengan tindakan ini, Trump bertujuan mengucilkan Iran. Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Dalam beberapa tahun terakhir, tak satu pun selain Israel dan Saudi yang mendukung keluarnya AS dari JCPOA. Sebab itu, kita melihat Utusan Khusus AS untuk Urusan Iran, Brian Hook, memohon kepada Tunisia dan Qatar agar menyetujui perpanjangan embargo persenjataan Iran. Hal ini dilakukan Hook usai kegagalannya meyakinkan para sekutu tradisional AS.

Di sisi lain, kebijakan Trump di dalam negeri bahkan lebih kacau dibanding kebijakan luar negerinya. Saat ini, AS berada dalam situasi yang dianggap sebagian kalangan mirip dengan kondisi sebelum Perang Saudara.

Rasisme, Corona, dan pengangguran telah merubuhkan masyarakat AS, sampai-sampai Ketua DPR AS, Nancy Pelosi, menyebut Trump sebagai “Tukang Pengacau.” Pelosi juga menjuluki ketidakbecusan Pemerintahan AS dalam menangani pandemi Corona dengan julukan “Virus Trump”.

Kendati para pemimpin negara sekutu AS tidak menampakkan kemuakan mereka terhadap kebijakan-kebijakan Trump, namun mereka berharap agar dia kalah dalam Pilpres AS mendatang. Sebab, bencana yang timbul akibat kebijakan Trump tidak kurang buruknya dari bencana Corona.

Kini, semua pandangan tertuju ke bulan November; bulan dilangsungkannya Pilpres AS dan potensi ditemukannya vaksin Corona.

Sekarang, apakah para sekutu AS akan terbebas terlebih dahulu dari Corona, baru kemudian Trump? Ataukah dua-duanya akan lenyap bersamaan? Jawabannya mesti ditunggu pada November nanti.

Tags: