Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Wakil Iran: Tak Satu Negara pun di Dewan HAM PBB Dukung dan Legalkan Teror AS atas Syahid Soleimani

Wakil Iran: Tak Satu Negara pun di Dewan HAM PBB Dukung dan Legalkan Teror AS atas Syahid Soleimani

POROS PERLAWANAN – Wakil Tetap Republik Islam Iran di Kantor Eropa PBB di Jenewa, Esmail Baqaei Hamaneh menyatakan rapat Dewan HAM Kamis kemarin dengan topik Syahid Qassem Soleimani adalah rapat yang penting.

“Syahid Soleimani adalah seorang Panglima Tinggi sebuah negara merdeka. Kami berhak untuk menempuh jalur hukum (untuk menindak para pembunuhnya). Salah satu prinsip hukum internasional adalah menggunakan jalur hukum domestik terlebih dahulu sebelum membawanya ke lembaga-lembaga internasional,” kata Baqaei Hamaneh kepada al-Mayadeen, seperti dilansir Fars.

“Saat ini, tak satu pun negara yang menyetujui tindakan AS meneror Syahid Soleimani. Bahkan Eropa pun juga tidak mendukung aksi teror AS. Dalam rapat hari ini, tak ada satu pun pidato yang mendukung teror atas Syahid Soleimani,” lanjut Baqaei Hamaneh.

Dalam rapat kemarin, Baqaei Hamaneh menaruh foto Syahid Soleimani dan syuhada lain di sisinya saat menyampaikan pidato. Ia menyebut Komandan Pasukan Quds IRGC itu sebagai pembela sejati HAM di hadapan terorisme ISIS. Menurutnya, Syahid Soleimani telah dibunuh secara keji oleh manusia paling celaka di muka bumi.

Jubir Kemenlu Iran, Abbas Mousavi dalam akun Twitter-nya menyatakan, AS dengan serangan verbal terhadap PBB tak akan bisa membersihkan namanya dalam kasus teror ini.

“Kami tak akan melupakan (kejahatan ini) dan juga tak akan memaafkannya,”cuit Mousavi.

Mousavi juga menanggapi penghinaan sejumlah pejabat AS, seperti Morgan Ortagus, yang menyebut Syahid Soleimani sebagai “teroris paling mematikan di dunia”.

“Bukan hal baru jika para penjahat profesional berusaha menjustifikasi tindak kriminal mereka. Namun yang memprihatinkan, dan yang menunjukkan watak arogan AS, adalah cara kurang ajar mereka dalam menanggapi laporan Reporter PBB, yang menyebut teror Syahid Soleimani sebagai tindakan ilegal,” kata Mousavi.

Menurutnya, lumrah jika rezim yang berperan dalam penyebaran terorisme di Timteng, akan terus membenci dan mendiskreditkan Syahid Soleimani, walau ia sudah tiada secara fisik.

“Ini menunjukkan bahwa ketakutan AS terhadap norma-norma Syahid Soleimani pasca syahadahnya melebihi ketakutan mereka kepadanya saat ia masih hidup,” tandas Mousavi.

Tags: