Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Zarif: Repotkan Diri Tekan Iran, AS Tak Sadar Kekuatannya Telah Luntur dan Situasi Dunia Kini Berubah

Zarif: Repotkan Diri Tekan Iran, AS Tak Sadar Kekuatannya Telah Luntur dan Situasi Dunia Kini Berubah

POROS PERLAWANAN – Menlu Iran, Javad Zarif dalam wawancara dengan sebuah televisi lokal menyatakan, Pemerintahan Donald Trump telah merepotkan diri sendiri dengan berusaha memperpanjang embargo senjata Iran.

“Ini lantaran mereka tidak memahami bahwa situasi dunia sudah berubah. Saat ini, tidak ada yang disebut ‘Dunia AS.’ Konferensi Keamanan Munich, yang merupakan kajian masalah keamanan terpenting di Barat, mengambil tema ‘Post-Western World’ pada tahun 2017. Sementara pada tahun 2020, temanya adalah ‘Non Western World’,” papar Zarif, seperti dilansir Fars.

Menurutnya, AS tidak menyadari fakta ini, atau berusaha untuk melawan arus baru ini.

Menlu Iran menepis pendapat yang mengatakan, Eropa memilih abstain di sidang Dewan Keamanan, karena tahu bahwa Rusia dan China pasti akan memveto resolusi usulan AS.

“Dalam masalah Palestina, negara-negara anggota juga tetap memberikan suara, kendati tahu AS akan memvetonya. Ketika ada negara yang abstain, tidak berarti karena mereka tahu akan ada yang memvetonya,” kata Zarif.

Ia berpendapat, sikap abstain Eropa bukan hal yang remeh, karena ini adalah salah satu kasus yang amat jarang terjadi, bahwa Eropa tidak memberikan suara untuk AS.

Zarif menyebut AS meneror Syahid Qassem Soleimani, lantaran tidak bisa mengalahkannya di medan tempur saat hari terang. Sebab itu, AS membunuhnya saat malam dengan drone yang dikendalikan dari jarak ratusan kilometer.

“Ini menunjukkan bahwa AS bukan lagi negara adi daya. AS menggunakan cara yang dipakai ISIS. Apa bedanya ini dengan tindakan kelompok teroris?”

“Semoga Allah memuliakan Syahid Soleimani. Di masa hidupnya ia telah menghinakan AS. Dengan syahadahnya, ia pun telah menunjukkan bahwa AS tidak menghormati prinsip mana pun,” tandas Zarif.

Terkait slogan “Tidak Timur, Tidak Barat” yang diusung Republik Islam Iran, Zarif menjelaskan bahwa slogan ini tidak berarti penentangan terhadap Timur dan Barat, namun bermakna “kemerdekaan dan penolakan terhadap hegemoni”.

“Kita tidak menerima hegemoni Barat, juga siapa pun. ini adalah fondasi kebijakan kita yang tidak berubah…Kebijakan ini adalah warisan Imam Khomeini. Pemimpin kita (Ayatullah Khamenei) juga menegaskan bahwa kemandirian Iran adalah salah satu raihan tertinggi Revolusi, serta salah satu rukun kekuatan kita,” pungkasnya.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *