Loading

Ketik untuk mencari

Eropa

Kebiasaan AS Kriminalisasi Jurnalis dan Pengungkap Pelanggaran HAM, Membuat Reporter Khusus PBB Hilang Minat Pahami Demokrasi Palsu Barat

Kebiasaan AS Kriminalisasi Jurnalis dan Pengungkap Pelanggaran HAM, Membuat Reporter Khusus PBB Hilang Minat Pahami Demokrasi Palsu Barat

POROS PERLAWANAN – Dilansir Fars, Reporter Khusus PBB Nils Melzer mengaku bahwa penyelidikannya dalam kasus pendiri WikiLeaks, Julian Assange, telah membuatnya takut untuk lebih memahami “Demokrasi Barat.”

“Bukan suatu kebetulan bahwa pelapor pelanggaran (whistleblower) ini diperlakukan secara tidak manusiawi,” cuit Melzer dalam peringatan satu tahun pertemuannya dengan Assange.

Melzer mengabdi selama 12 tahun di Palang Merah Internasional dan kini menjabat sebagai dosen Hukum Internasional di Universitas Glasgow. Selama beberapa tahun dia menyelidiki kasus Assange dan berbagai tuduhan yang dilayangkan kepadanya.

Menurut laporan Sputnik, tuduhan pemerkosaan dialamatkan kepada Assange pada tahun 2010 lalu. Tuduhan ini menyusul pembeberan sejumlah dokumen rahasia oleh WikiLeaks terkait kejahatan perang yang dilakukan Tentara AS di Afghanistan dan Irak.

Dokumen-dokumen itu memuat pembunuhan, penyiksaan warga sipil, dan berbagai pelanggaran HAM yang dilakukan Tentara AS. Assange meyakini, tuduhan pemerkosaan yang ditujukan kepadanya hanyalah dalih agar ia diekstradisi ke AS. Dia dituding AS telah melakukan pelanggaran hukum spionase.

Setelah Melzer menyelesaikan investigasinya, dia menyatakan penyelidikan yang dilakukan Swedia terhadap Assange sebagai “penyalahgunaan proses investigasi.” Melzer juga menyebut seluruh tudingan AS sebagai bentuk kriminalisasi jurnalis investigator.

Usai menemui Assange di penjara, Melzer menuduh Pemerintah Inggris telah menyiksa Pendiri WikiLeaks tersebut, yang segera disangkal oleh London.

“Selama 20 tahun bekerja dengan para korban perang, kekerasan, dan intimidasi politik, saya tidak pernah melihat sekelompok “negara-negara demokratis” yang membentuk geng dan mengucilkan seseorang secara sengaja dalam waktu lama, itu pun tanpa mengindahkan martabat kemanusiaan dan superioritas hukum,” kata Melzer.

“Geng ini mengesankan Asssange sebagai iblis dan menyalahgunakannya. Perundungan kolektif atas Assange harus segera diakhiri sekarang juga,” tandasnya.

Assange diseret keluar oleh Polisi Inggris dari Kedubes Ekuador pada 12 April 2019. Dia tinggal di kedubes itu selama 7 tahun untuk berlindung dari gangguan politis. Hal ini terjadi sehari setelah WikiLeaks melaporkan bahwa para Pejabat Ekuador memata-matai Assange.

Setelah ditangkap, warga asal Australia ini dipenjara atas tuduhan pelanggaran jaminan. AS menuntut agar ia diekstradisi. Jika diadili di AS, ada kemungkinan Assange akan dijatuhi hukuman penjara selama 170 tahun.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *