Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Klaim Simpati Pompeo kepada Korban Penyiksaan di Seluruh Dunia, Kamuflase Perilaku AS sebagai ‘Dedengkot Penyiksa’

Klaim Simpati Pompeo kepada Korban Penyiksaan di Seluruh Dunia, Kamuflase Perilaku AS sebagai 'Dedengkot Penyiksa'

POROS PERLAWANAN – Dilansir Fars, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo mengaku dirinya bersimpati terhadap para korban penyiksaan dan keluarga mereka.

“Di Hari Dunia Dukungan untuk Korban Penyiksaan, saya menyatakan dukungan terhadap para korban penyiksaan dan keluarga mereka di seluruh dunia,” cuit Pompeo di laman Twitter-nya, Jumat 26 Juni.

“AS berkomitmen menggunakan segala sarana yang ada untuk menuntut pertanggung jawaban dari para pelaku perbuatan keji ini,” imbuhnya.

Padahal sebelum ini, Jaksa Umum Mahkamah Pidana Internasional (ICC), Fatsou Bensoda mengumumkan, ada bukti-bukti kuat bahwa Tentara AS dan biro intelijennya melakukan penyiksaan, pelecehan, pemerkosaan, dan kekerasan seksual. Para korban mereka adalah tahanan-tahanan terkait perang di Afghanistan dan negara-negara lain. Kebanyakan korban mengalami penyiksaan di tahun-tahun pertama perang.

Tahun lalu, ICC menolak permintaan untuk melakukan penyelidikan terkait operasi Badan Intelijen Pusat AS (CIA) di Polandia, Lithuania, dan Rumania. ICC menyebut bahwa segala investigasi terkait masalah ini akan berakhir sia-sia. Sebab, kata ICC, para korban kejahatan, yang mencakup pejabat Afghanistan, AS, dan Taliban, tak akan bersedia bekerja sama.

Di masa itu, Menteri Luar Negeri AS mengatakan, ia tak akan memberikan visa bagi para penyelidik ICC, jika mereka hendak melakukan investigasi terkait pelanggaran atau kejahatan Tentara AS di Afghanistan atau negara lain.

Pada bulan lalu, Reporter Khusus PBB untuk Urusan Penyiksaan, Nils Melzer mengatakan tidak adanya tanggung jawab dan transparansi adalah substansi gabungan Partai Republik dan Demokrat AS.

“Orang-orang Republik dan Demokrat sama-sama menyakiti para pengungkap fakta. Mereka menuding para penentang sebagai teroris, melakukan pembunuhan dengan drone, dan memberikan grasi untuk para pelaku penyiksaan dan penjahat perang. Jangan tertipu, penyembunyian fakta dan kekebalan hukum Pemerintah AS adalah hal yang sistematis,” cuit Melzer lewat akunnya.

Tags:

Fatal error: Allowed memory size of 134217728 bytes exhausted (tried to allocate 20480 bytes) in /www/wwwroot/porosperlawanan.com/public_html/wp-includes/wp-db.php on line 2128

Fatal error: Allowed memory size of 134217728 bytes exhausted (tried to allocate 32768 bytes) in /www/wwwroot/porosperlawanan.com/public_html/wp-content/plugins/jetpack/jetpack_vendor/automattic/jetpack-backup/src/class-package-version.php on line 1